NABI MUHAMMAD DIUTUS UNTUK MENEMBUS BATAS, BUKAN MEMBUAT BATAS
Silsilah Rosulullah itu dari keturunan Bani Hasyim, sebuah nasab yang terhormat dalam struktur clan di Jazirah Arab Makkah kala itu. Namun hadirnya Muhammad bukan untuk melanggengkan status quo nasabnya namun sebaliknya menembus batas clan dengan memproklamirkan iman dan takwa sebagai parameter kemuliaan. Muhammad itu laki-laki berparas tampan, berwibawa, dan berkuasa namun kehadirannya bukan untuk menikmati struktur patriakhis yang kala itu dengan seenaknya bisa memiliki perempuan entah sebagai istri atau budak dengan jumlah tanpa batas. Sejak kehadirannya jumlah istri dibatasi dengan berbagai ketentuan yang tidak mudah. Muhammad itu menggenggam kekuasaan makkah dan madinah kala itu yang jika ia mau bisa melakukan apa saja, namun pembawa risalah ini mengabdikan kekuasaannya untuk ummatnya (rakyat) tanpa diskriminasi.
Muhammad adalah kebenaran namun dengan kebenaran yang digenggamnya itu bukan untuk menghakimi dan menghardik orang yang salah sekalipun, namun justru penuh kelembutan membimbing orang yang kebetulan khilaf dan bahkan memaafkannya. Muhammad adalah sosok mahluk yang mampu melampaui batas genetik nasabnya dan menembus batas struktur sosialnya. Semuanya ditembus oleh risalah ilahi bahwa segala atribut sosial (keturunan, jenis kelamin, kekuasaan) tidak ada artinya kecuali untuk nilai kebermanfaatan bagi manusia lain, bagi alam semesta. Khoirunnasi anfa'uhum linnas (sebaik-manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain). Rahmatan lil'alamin (berkasih sayang untuk seluruh semesta). Tuhan sendiri berfirman "sesungguhnya Allah tidak melihat paras wajah dan jasad fisik kalian, namun Allah lebih melihat hati kalian".
Namun tiba-tiba atas nama agama dan klaim keturunan (dzurriyah nabi) sebuah kelompok itu justru membuat batas dengan sejumlah klaim hak sebagai kelompok paling istimewa dalam menafsir agama. Klaim gelar habib bukan untuk mengenalkan ajaran suci nilai-nilai universal menembus batas nasab, bangsa, warna kulit, kasta sosial, bahkan agama, namun justru arogan dan tak segan menista. Apakah ini pertanda semakin nyata sebuah sabda Nabi bahwa "al islamu mahjuubun bil muslimin". Artinya: "Suatu hari nanti Islam akan surut justru oleh orang Islam sendiri". Wallahu a'lam...
#bilikrenungeps31
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar