BERAGAMA ADALAH JUGA BERNALAR
Umat muslim di berbagai negara di dunia marah atas pernyataan Perdana Menteri Prancis, Immanuel Macron terhadap Islam. Pernyataan yang dianggap penghinaan terhadap Nabi Muhammad itu merupakan respon terhadap tragedi sebelumnya atas terbunuhnya seorang guru oleh muridnya krn menunjukkan sebuah karikatur Rosulullah.
Pernyataan Macron tersebut mendapat reaksi keras komunitas muslim yang ada di berbagai belahan dunia. Salah satu bentuk reaksi itu adalah boikot produk-produk Prancis. Para demonstran berasumsi bahwa dengan bentuk reaksi semacam itu akan bisa menghukum Perancis sebagai balasan atas penghinaan marwah Nabi yang menjadi junjungannya itu. Tepatkah dan strategiskah bentuk reaksi semacam itu di era sistem tata dunia yang sudah sedemikian rupa? Benarkah hakikat ajaran yang disuritauladankan Rosulullah sendiri demikian? Mari kita analisis persoalan ini secara obyektif, strategis, dan dengan kepala dingin.
1) Secara kronologis apa yang dinyatakan PM Prancis tidak lepas dari peristiwa sebelumnya yaitu pemenggalan kepala seorang guru oleh muridnya karena menunjukkan sebuah karikatur Nabi Muhammad di hadapan murid-muridnya. Dari sini antara pernyataan Macron bisa ditemukan korelasinya. Namun demikian mengeneralisasi dengan menyinggung Islam secara keseluruhan adalah sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa, sembrono, dan kurang perhitungan. Negara Prancis memang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai demokrasi yakni liberte, fraternite, dan egalite. Namun Macron tidak memperhitungkan bahwa Islam menjadi identitas trans-nasional yang ikatan solidaritasnya menembus batas negara.
2) Bentuk reaksi umat Islam dengan memboikot berbagai produk Prancis adalah sebuah cubitan yang perih rasanya bukan hanya dirasakan Perancis tapi juga diri sendiri. Ingat bahwa dunia sudah berbalut sistem neo-liberalisme dimana gurita pasar saling berkelindan antara korporasi global, pemodal, negara investor dan negara obyek investasi, dan kaum pekerja (buruh). Sebagai contoh, Aqua sebagai produk Danone memang korporasi berbasis di Perancis, tapi bukankah Danone adalah korporasi dengan saham terbuka (tbk) yang boleh jadi beberapa lembar sahamnya adalah milik warga negara yang bukan hanya Prancis, bahkan anda pun bisa bersaham di sana. Belum lagi dengan sistem pasar bebas dimana sebuah korporasi bisa mendirikan pabriknya di negara-negara yang sudah meratifikasi dokumen perjanjian pasar bebas itu. Belum lagi ketergantungan buruh terhadap korporasi tersebut. Boleh jadi jika benar bahwa boikot ini akan membangkrutkan korporasi tersebut maka tetangga, teman, dan saudara kita sendiri yang akan kehilangan pekerjaan. Belum lagi hilangnya income atau devisa negara dari pajak, dll. Inilah sistem neo-liberalisme yang menggurita dunia. Mungkin ada ketidakadilan di situ, bisa dikritik dan bahkan digugat, mamun inilah faktanya.
3) Nabi Muhammad sendiri dalam perilaku hidupnya telah memberi suritauladan untuk bersabar, melampaui egonya sendiri, dan tidak baperan. Dalam sebuah riwayat bahkan nabi tak pernah membalas sedikitpun hinaan dan serangan pembencinya yaitu seorang kafir Quraisy yang meludahinya dan melempari dengan kotoran unta setiap perjalanan pagi buta beliau menuju masjid untuk sholat Shubuh. Bahkan Rosulullah mencarinya ketika tidak ada aktivitas pelecehan yang biasa diterimanya itu karena sang pelaku sedang sakit, bahkan Rosulullah berbalik mengasihi dan membalas dengan kebaikan. Begitu juga ketika para malaikat hendak menjatuhkan sebuah gunung kepada masyarakat Thoib karena menolak dakwah Islam dan menyerang hingga gigi baginda Rosulullah tanggal dan berdarah-darah. Dengan penuh kelembutan Muhammad melarang para malaikat menghukumnya dan justru berbalik mendoakan semoga anak cucu mereka suatu hari nanti menyadari dan menerima pencerahan Islam.
Wahai saudaraku dunia sudah berubah. Memang izzah dan marwah Islam harus dijaga dan menjadi kewajiban setiap muslim, hanya saja marilah berpikir strategis dan substantif. Bisa jadi atas nama bela Islam jika tidak dinalar dengan cerdas dan strategis bisa menjadi blunder yang merugikan diri sendiri.
...dan di tengah saya merenung dari bilik saya tiba-tiba ada seseorang berhenti tepat di depanku sambil mengucap bismillah kemudian meneguk air dari botol Aqua yang ada digenggamannya hingga habis karena kehausan. Di buanglah botoal plastik yang sudah kosong itu ke bak sampah yang ada di dekatnya. Tak lama seorang pemulung memungutnya.
Dengan menghela nafas saya mbatin "urip pancen mampir ngombe". Semoga fokus ya...
#bilikrenungeps27
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar