Jumat, 27 Agustus 2021

KEMBALINYA ERA KOSMOSCENTRIS

Hukum kekal kehidupan adalah perubahan. Peradaban manusia berubah silih berganti. Tidak ada keabadian, termasuk juga pernyataan ini sendiri. Namun setidaknya pernyataan yang direaktualisasi sedikit bisa menghindar dari nihilisme dan kekosongan tak berujung. Sekedar menahap sejarah peradaban manusia secara sederhana ada tiga tahapan, yaitu 1) KOSMOSCENTRIS, zaman ketika alam semesta begitu perkasa dan manusia harus tunduk kepadanya. Karena itu alam dikeramatkan, dihormati, dan ditakuti. Pranata kehidupan sejak dari sistem kepercayaan, budaya, dan sistem sosial diorientasikan pada alam sebagai central; 2) TEOCENTRIS, era dimana cara pandang manusia tunduk dibawah keyakinan dogma agama. Tuhan adalah pusat persembahan dan sumber segala nilai normatif manusia. Melalui para Rasulnya dan penafsirnya firman Tuhan diejawantah dalam tata perilaku baik individu maupun masyarakat (ummat); 3) ANTROPOCENTRIS, era dimana akal rasio manusia memegang kendali dalam penciptaan peradabannya sendiri. Manusialah subyek utama bagi dirinya sendiri. Abad yang dijuluki era renaissance (pencerahan) ini rasionalitas dipuja-puja sebagai pusat peradaban, maka berkembang pesatlah ilmu pengetahuan dan teknologi. Alam semesta ditundukkan dan dieksploitasi. Dogma agama beserta institusinya dianggap sebagai barang usang yang harus dicampakkan karena mengganggu kebebasan dan rasionalitas. Bahkan tuhanpun seakan telah dibunuh oleh kedigdayaan akal manusia. Ketika peradaban melaju kencang dan derap perkembangan teknologi menjadi-jadi, dunia berada pada episode revolusi industri 4.0, era dimana teknologi berbasis jaringan internet. Dunia seakan pada titik sangat optimis akan melesat semakin cepat dan jauh. Sampai pada akhirnya dunia dikejutkan tidak terkira dan di luar dugaan dengan hadirnya delegasi alam yakni makhluk yang bernama wabah CORONA. Dengan julukan covid 19 ini dunia tergagap-gagp dipaksa untuk merestart ulang peradabannya. Pandemi global ini seakan menampar peradaban modern untuk bercermin kembali pada kedigdayaan alam yang selama ini direndahkan, dilupakan, dan dieksploitasi. Bisa jadi pandemi ini membenarkan bahwa hidup adalah cokromanggilingan, bagai roda pedati yang selalu berputar. Kosmosentris yang dianggap sebagai era primitif dan abad kegelapan bisa jadi sedang hadir kembali dalam sejarah manusia; bahwa manusia hanyalah sebutir debunya debu di alam jagat raya ini. #bilikrenungeps26 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar