Senin, 30 Agustus 2021

BANGSA UTOPIA

Kegaduhan partai Demokrat menambah daftar panjang kegagalan partai politik di Indonesia sebagai infrastruktur politik dalam penegakan nilai-nilai demokrasi. Selain partai politik sebenarnya bangsa ini telah mengakomodasi kepentingan aspirasi masyarakat dengan sejumlah entitas sosial lainnya, seperti ormas keagamaan, komunitas berbasis adat, dan kelompok-kelompok rujukan lainnya. Realitas itu sudah lama disadari founding father's bangsa ini yang kemudian diformulasikan dalam konsep TRI PRAKARA; tiga dalam satu, yaitu penyatuan adat istiadat, agama, dan asas kenegaraan. Konsep ini sekaligus menjadi titik differensiasi antara konsep nation state yang ditawarkan negara modern (Barat) dengan identitas bangsa ini yang begitu beragam. Itulah mengapa di samping sistem voting ada musyawarah mufakat, di samping hukum positif (UU dan Peraturan Pemerintah) ada kearifan lokal, dan di samping ideologi negara ada norma agama. Dan akhir-akhir ini bangsa Indonesia kehilangan daya mampu dan kreatifitas mencari titik keseimbangan. Namun lagi-lagi tak ada jaminan bahwa 2 unsur lain dari tri prakara tersebut, yaitu ormas keagamaan dan adat istiadat mampu mengawal tujuan bangsa ini didirikan. Di sepanjang sejarah parpol dihiasi kepentingan elit-elitnya hingga membawa lembaga politik ini berada di jurang oligarkhi bahkan dinasti kekeluargaan. Pun pula ormas keagamaan secara ontologis seringkali diragukan integritas dan komitmen nasionalismenya karena lebih bernostalgia dengan impian negara berbasis agama. Demikian halnya adat istiadat tak mencukupi sebagai entitas sosial politik dalam mengoperasionalisasi mekanisme bernegara di tengah keragaman bangsa ini. Jika ketiga unsur sendi demokrasi yang sebenarnya begitu khas bangsa ini gagal membuktikan perannya dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, maka biasanya bangsa ini lari pada hal-hal imajinatif dan utopis. Jadi wajar jika di tengah frustasi kegagalan entitas sosial tersebut bangsa ini kemudian lari pada hal-hal yang bersifat imajinatif dan utopis. Di sinilah ditemukan penjelasan mengapa muncul istilah "satrio piningit" dalam menentukan pemimpin masa depan dan perdukunan selalu menjadi alternatif di tengah kegagalan dalam mengeja wantah tiga serangkai nilai tersebut. #bilikrenungeps44 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar