Senin, 30 Agustus 2021

EQUILIBRIUM PASAR

Satu per satu makhluk-makhluk neoliberalisme itu seakan bertumbangan. Sebenarnya sudah lama saya gelisah dengan kehadiran mall-mall besar yang memajang etasale barang-barang mewah dan branded di kotaku Jogjakarta. Namun apa boleh buat Jogja hanyalah secuil petak dari hamparan planet ini akhirnya jebol juga oleh gerusan neoliberalisme dan kapitalisme global. Betapapun kota kecil di tlatah Mataram ini sekuat tenaga mempertahankan identitasnya yang ndeso, sederhana, dan tradisional akhirnya tumbang oleh kecongkakan korporasi trans-nasional atas nama demi kemajuan, pertumbuhan, dan modernisasi. Sejumlah brand modern hadir menghiasi kota ini sejak dari mall, hotel berbintang, industri hiburan, KFC, McD, Pizza, Starbuck, dan sejumlah luxery consumption lainnya. Dampak pandemic Covid-19 menghajar korporasi neolib tersebut di ambang kebangkrutan. Lihatlah bagaimana hotel-hotel berbintang dijual murah dan mall-mall supermewah itu sepi pengunjung. Seminggu yang lalu brand Centro di Ampalz tutup disusul minggu berikutnya Parkson di Hartono Mall. Jauh sebelumnya makanan yang sebelum pandemi begitu keren dan simbul modernitas dari negeri Pamansam yang digandrungi anak muda itu, yakni Pizza, harus membuang gengsi dijajakan di pinggir-pinggir jalan dan harus bersaing dengan telo godog, jagung bakar, angkringan dan penjaja kaki lima yang bertebaran di sudut-sudut kota pelajar ini. Begitupun sejumlah brand internasional yang sebelumnya begitu congkak akhirnya bertumbangan dan harus bekerja keras beradaptasi dengan situasi. Fenomena tersebut menegaskan bahwa pasar selalu mencari titik keseimbangan. Tantangan seberat apapun selalu ada celah yang bermuara pada keseimbangan. Meminjam penggagas awal hukum pasar, Adam Smith menjelaskan bahwa di dalam sistem pasar ada "the invisible hand" yang mampu menjaga equilibrium sehingga pasar tak tersentuh oleh kekuatan apapun kecuali oleh hukum pasar itu sendiri. Seiring dengan aksioma tersebut teori Darwin menegaskan bahwa pada akhirnya yang bertahan hidup bukan siapa yang paling kuat tetapi siapa yang mampu beradaptasi. Dulu sebelum hadirnya raksasa korporasi neoloberalisme atas nama investasi dan penanaman modal asing di kota Jogja telah berdiri toko-toko swalayan walau modern kala itu namun tetap bersahaja dan sederhana. Ambil saja contoh Gardena, Mirota, Pamela, WS toserba, dll. Toko-toko tersebut hingga hari ini tetap bertahan dengan pelanggan setianya. Dan tak kala dampak pandemi Covid 19 ini menumbangkan para raksasa itu justru toko-toko menengah yang para pelayannya sulit menyembunyikan kultur ndesonya itu tetap mampu bertahan. Begitupun para pedagang kaki lima yang memenuhi sudut-sudut kota Jogja tetap saja mampu menyalakan lampu kecil kerlap kerlip di tenda-tenda dan gerobak dorong sederhana pertanda ada kehidupan di dalamnya, seperti angkringan, burjo, wedang ronde, gudeg, nasgor, pecel lele, dll. Hikmah di balik pandemi global ini seakan menjadi momentum bahwa keaslian Jogja yang ndeso, sederhana, dan bersahaja menunjukkan denyut nadi kehidupannya kembali. Semoga fenomena ini ditangkap oleh pemangku kepentingan di deerah yang menyandang gelar daerah istimewa ini untuk kemudian direnungkan kepada siapa keberpihakan ini seharusnya diberikan. Dan malam pun tiba, tak dapat kutahan untuk menikmati kopi joss dan nasi kucing khas angkringan Jogja sambil ngobrol ngalor ngidul dengan penjualnya atau sesama pembeli yang tak pernah dilihat apa jabatannya, apa agamanya, apa partainya, apakah sukunya, apakah kampret atau kecebong. Itu semua tak penting! Di bangku angkringan semua mewujud sebagai manusia. Itu saja. #bilikrenungeps46 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar