Senin, 30 Agustus 2021

PESAN CORONA YANG TAK KUNJUNG DITANGKAP MANUSIA MODERN

Dunia mulai saling berebut vaksin covid-19, masyarakat juga mulai mengular panjang menunggu antrian jatah divaksin. Walau sejak awal ditandaskan vaksin bukan satu-satunya obat mujarab yang dengan serta merta menangkal virus corona, tetap saja manusia berharap dengan vaksin ini nestapa ini segera sirna. Publikasi vaksin yang bertubi-tubi mengkonstruksi kesadaran publik bahwa kabar gembira itu telah tiba. Memang vaksinasi adalah salah satu wujud ikhtiyar manusia menghalau bencana corona, namun pemahaman perlu diluruskan dan kesadaran harus dijernihkan. Ibarat sebuah pertempuran di medan laga dimana corona sebagai musuh bersama, vaksin hanyalah perisai untuk melengkapi diri dari serangan bertubi-tubi. Kemenangan peperangan ini ditentukan oleh banyak faktor, sejak dari strategi perang itu sendiri, kemampuan fisik prajurit, peralatan yang digunakan, mental pasukan, strategi pertahanan, dll. Vaksin hanyalah salah satu dari berbagai unsur dalam mempertahankan diri dan memenangkan pertempuran. Sejak awal kehadirannya pesan utama corona adalah imunitas tubuh. Faktor inilah pesan dasar dari virus yang mudah menular ini. Bagaimana kualitas imunitas tubuh seseorang adalah hasil dari investasi panjang dalam hidupnya yang dihitung sejak janin hingga hari ini dia hidup. Salah satu bentuk investasi itu adalah bagaimana seseorang bergaya hidup selama ini, sebagai contoh bagaimana pola makannya, pola tidurnya, ritme aktivotasnya, gerak tubuhnya, pengelolaan psikologisnya, sistem hidup sosialnya dll. Itu semua menentukan hari ini bagaimana kondisi kesehatan seseorang. Imunitas tubuh tidak bisa dibentuk secara instan, apalagi hanya dengan meminum sebuah obat. Budaya modern telah lama merusak gaya hidup manusia menjadi berantakan dan tidak sehat. Lihatlah bagaimana manusia modern semakin malas bergerak (berolah raga), lebih memburu makanan lezat dan trendy daripada sehat dan sederhana, memperumit selera budaya dengan genre pop, dsb. Pesan corona sebenarnya sederhana; kembalilah ke hidup normal bahwa manusia harus berbudaya hidup bersih, seimbangkan gerak tubuh, makanlah yang sehat, jagalah jarak seperlunya, dll. Keranjingan orang modern dengan gaya hidup yang serba ngepop dan konsumtif menjadi nafsu yang lebih besar daripada kebutuhan dasar hidup manusia untuk hidup sehat. Dan ketika genderang perang itu ditabuh oleh pasukan corona maka spesies manusia ini kalangkabut mencari tameng perisai untuk perlindungan diri. Memang perisai itu bermanfaat untuk menahan tubuh dari hantaman dan tusukan musuh, namun apa daya jika tubuh penopangnya tak sekokoh yang diharapkan maka akan tumbang juga. Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa manusia modern harus serius memperbaiki kesembronoan selama ini. Selayaknya program penanggulangan penyebaran covid 19 bukan hanya terkonsentrasi pada pengobatan dan vaksinasi, yang justru fundametal adalah bagaimana mencegahnya dengan berinvestasi imun tubuh sejak dini. Anak2 sekolah jangan hanya disuruh mencuci tangan dan jaga jarak, namun sekolah2 harus merombak kurikulum dengan memasukkan pendidikan jasmani sebagai hal penting dalam hidup. Mensano incorpore sano, begitu pepatah Yunani itu sudah lama diperdengarkan. Sekolah bukan hanya sibuk menyediakan tempat cuci tangan dan menyemprot disinfektan, namun bagaimana para murid yang malas bergerak itu diolahragakan hingga berkeringat di tengah lapangan dengan bermandikan sinar matahari pagi, termasuk para guru yang perutnya mulai membuncit karena pulang pergi ke sekolah sudah nyaman naik honda jazz dan avanza. Ahh jadi ingat masa kecil SD ku dulu yang senam tiap pagi dan pulang pergi berjalan kaki. Dan guru-guruku kala itu juga bermandikan peluh keringat penuh pengabdian. Terbayang guru perempuanku yang tetap langsing dan anggun hingga usianya menua. Salam sehat. #bilikrenungeps44 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar