BANJIR, HUKUM AIR, DAN KEGAGALAN BELAJAR YANG BERULANG
Lagi dan lagi ibukota dilanda bencana banjir. Begitulah fakta itu berulang kali terjadi, namun anehnya berulang pula cara pandang bangsa ini dibangun dalam melihat bencana ini tanpa pergeseran secara signifikan. Dari cara pandang paham agama tertentu sering kali bencana dipersepsikan sebagai musibah, ujian, hukuman Tuhan kepada ummat manusia; sebuah cara pandang fatalistik yang selalu menarik semua kejadiaan menjadi serba “kehendak Tuhan”. Sementara dari cara padang para pemegang kekuasaan, banjir lebih dinarasikan sebagai akibat ekstrimnya curah hujan dan keterbatasan kapasitas daya tampung drainase ibukota. Ya begitulah cara pandang bangsa ini yang bertahun-tahun mengendap dalam menghadapi fenomena alam ini. Karena itu lumrah jika solusi yang diatawarkan begitu-begitu saja, bahkan ketika air surut dan banjir menghilang kita kembali lupa dan malas berpikir secara fundamental apa penyebab banjir dan bagaimana cara mengatasinya.
Berbeda dengan jenjs bencana lain, seperti gempa bumi yang sulit diprediksi kapan dan dimana terjadinya secara tepat, banjir adalah bencana yang sebenarnya bisa diprediksi, diukur, dan diantisipasi. Oleh karena itu bencana banjir menggambarkan bagaimana kualitas berbagai aspek kehidupan sebuah bangsa. Bencana banjir yang berulang terjadi menggambarkan bagaimana kualitas sebuah kepemimpinan dimana banjir itu terjadi, kualitas managerialnya, kualitas sistem pelayanan birokrasi, kualitas teknologi, kualitas budaya masyarakat, dll. Itu semua karena bencana banjir terjadi melalui proses dan hukum kausalitas yang mestinya bisa dipelajari dan diteliti untuk kemudian dirancang bentuk mitigasinya.
Mari kita pahami secara mendasar material banjir itu sendiri, yakni air. Air adalah benda cair yang di dalamnya terdapat hukum-hukum fisika yang bisa dipelajari dan dipahami untuk kemudian dikendalikan. Air adalah unsur materi paling prinsip dan menjadi identitas paling khas yang dimiliki planet bumi dan tidak ada di planet lain. Karena air itu pula planet ini menjadi satu-satunya tempat
yang paling memungkinkan dihuni oleh makhluk hidup sejauh yang manusia ketahui. Bahkan saking fundamentalnya air dalam kehidupan melahirkan berbagai hipotesa penting di sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Filosof Yunani Kuno yang bernama Thales menyatakan bahwa asal mula segala sesuatu adalah air. Teori evolusi Darwin banyak menjelaskan bahwa makhluk hidup berevolusi dalam mata rantai perkembangan dari bahan air. Dalam keyakinan agama-agama semetik maupun samawi juga mendudukkan air sebagai benda yang menyimbulkan kesucian dan keindahan, bahkan syurga pun digambarkan sebuah tempat dimana air mengalir di bawahnya. Itu semua menegaskan betapa mulianya air dalam keyakinan dan kehidupan.
Senyawa Air merupakan gabungan dari unsur hidrogen (H) dan oksigen (O) dengan rumus kimianya, yaitu H2O. Melalui reaksi kimia, air dapat diuraikan kembali menjadi hidrogen dan oksigen. Di dalam hukum fisika menyebutkan bahwa salah satu sifat air adalah mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah karena ada gravitasi bumi. Dalam kaitannya dengan bencana banjir marilah kembali pada hukum dasar ini, bahwa air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, begitu juga tentang volume, debit air, kecepatan aliran dan lain-lain. Aksioma atau hukum air ini bersifat universal, alamiah, dan tetap, karena itu mestinya hukum tersebut bisa dipelajari, dipahami, dan dikendalikan untuk keselamatan manusia, bahkan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan manusia, seperti pengairan pertanian, sumber energi, dan lain sebagainya. Belanda dan Jepang adalah salah satu contoh sebuah negara yang sukses merespon bencana yang bersumber dari air ini dengan bentuk jawaban teknologi dan rekayasa lingkungan yang handal dan solutif.
Sementara di negeri ini bencana banjir tidak pernah membuat bangsa ini belajar tentang hukum air. Banjir ibukota yang berulang terjadi tetap saja mematrikan cara pandang yang didominasi oleh perspektif fatalistik, dan bahkan lebih tragis lagi, akhir-akhir ini bencana yang berulang kali terjadi di ibukota menjadi komoditas politik untuk pencitraaan dan egoisme penguasanya. Padahal air yang mengalir tak pernah melihat siapa gubernurnya dan kelompok siapa pendukungnya. Air hanya menaati hukum-hukum alamiahnya yang sudah dititahkan oleh Penciptanya sendiri. Dengan anugerah akal mestinya manusia menggunakannya untuk memahami hukum-hukumnya demi keberlangsungan kehidupannya.
Begitupun masyarakatnya, tetap saja membuang sampah sembarangan, membangun pemukiman di bantaran sungai, dan merusak hutan-hutan yang berfungsi sebagai hulu penyerapan air hujan. Dan ketika banjir datang kembali ratapan doa dipanjatkan dan seolah amnesia atas dasar apa dulu menentukan memilih pemimpinnya.
#bilikrenungeps43
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar