BERDAMAI atau BERPERANG?
Satu episode lagi tertayang bahwa covid-19 memaksa manusia untuk jujur. Jujur terhadap diri sendiri, jujur terhadap keadaan, dan jujur menilai sejauhmana kemampuan diri kita. Setelah didera kejenuhan berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan menjalankan PSBB dengan berbagai bentuknya, seperti social distancing, physical distancing, work from home, pembelajaran daring, niru-niru lockdown walau tidak persis, kemudian bangsa ini membayangkan jadwal pelonggaran akan tiba, bahkan ada yang optimis Juli kurva bencana corona akan menurun dan kemudian kehidupan akan normal kembali. Belum lama mimpi indah itu terwujud, tiba-tiba Presiden Jokowi mengajak bangsa Indonesia BERDAMAI dengan pandemic covid-19 ini. Apakah pernyataan tersebut sebuah sikap putus asa, ignoren, atau justru sikap paling realistik? Mari kita telaah bersama.
Sebuah pernyataan dikemukakan di ruang publik tentu harus berbanding lurus dengan kenyataan sehingga memenuhi asas kebenaran korespondensi dan koherensi. Jika asas logik tersebut terpenuhi maka pernyataan seorang pemimpin bisa dikatakan representasi rakyat yang dipimpinnya. Mari kita lihat bagaimana fakta-fakta di lapangan bagaimana bangsa ini menyikapi bencana ini.
Jika dipetakan bagaimana negara-negara di dunia ini menghadapi pandemic global ini terdapat tiga jenis sikap dan kebijakan sebagai berikut:
1. MELAWAN, yaitu sebuah sikap vis a vis dengan virus corona secara strike, frontal, dan keras. Bentuk sikap seperti ini diambil setelah dilakukan pengukuran bahwa corona adalah musuh yang bisa dikalahkan oleh kemampuan pengambil sikap. Bagi negara yang memilih sikap ini maka kebijakan yang diambil adalah lockdown (dalam pengertian yang sesungguhnya). Negara yang memilih kebijakan ini biasanya diimbangi dengan kemampuan rekayasa sosial yang efektif, hukum yang suprematif, ekonomi yang mumpuni, sistem data yang valid, teknologi yang canggih, dan budaya warganya yang berdisiplin tinggi.
2. BERDAMAI, yaitu sikap jalan tengah antara kedua belah pihak. Jalan perdamaian ini diambil didasarkan pada pertimbangan bahwa antara kekuatan yang dimiliki dengan musuh yang akan menyerang kemampuannya seimbang. Sikap berdamai ini diambil bukan berarti menyerahkan diri pada musuh, namun sebuah strategi yang didasarkan pada pengukuran kemampuan obyektif dan realistik. Negara yang mengambil sikap ini cenderung mengeluarkan kebijakan yang lunak dan dinamis. Kalaupun memberlakukan social distancing, physical distancing, dan pembatasan sosial berskala besar, namun ada ruang pelonggaran dan terkesan inkonsisten di lapangan. Performance aparatur yang lunak itu bukan karena negara tidak tegas dalam menegakkan kebijakannya namun lebih pada sikap realistik terhadap kemampuan negara dalam menjaga stabilitas politik, kemampuan ekonomi, pertahanan-keamanan, dan tidak kalah pentingnya adalah melihat kharakter budaya masyarakat itu sendiri.
3. MENYERAH, yaitu sebuah keadaan kalah oleh musuh yang jauh lebih kuat. Sikap ini memang tidak ada yang diambil negara manapun dalam menghadapi musuh bersama yang bernama covid-19, namun untuk memudahkan pemetaan bentuk sikap dalam menghadapi pandemic global ini.
Kembali mengkritisi ajakan presiden Jokowi untuk berdamai, maka tentu saja masuk dalam kategori kedua dari peta tersebut di atas. Pertanyaannya adalah tepatkah ajakan tersebut? Berdasar pada pertimbangan apa dan bagaimana perdamaian itu dianjurkan?
Pada episode yang lau saya telah mengemukakan bahwa jangan heran dengan berubah-ubahnya kebijakan pemimpin publik, entah itu pusat atau kepala daerah dalam menghadapai bencana corona. Perubahan-perubahan yang terkesan inkonsisten dan plin-plan itu bahkan memiliki dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam cara pandang bangsa ini.
Dampak pandemic global ini sedemikian kompleks dan luas. Isu corona bukan hanya isu kesehatan namun juga merambah aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pertahanan keamanan. Khusus mengenai budaya, bangsa ini lekat dengan kultur komunalisme, budaya kumpul-kumpul, berkerumun, dll. Sebuah bentuk budaya yang dalam kasus corona bertolak belakang dengan tuntutan vrirus ini jika ingin dihentikan, yakni social distancing. Kharakter covid-19 yang begitu mudah menular dengan cepat maka upaya melawannya mensyaratkan kedisiplinan tinggi secara massal. Anjuran pemerintah kepada semua warga untuk berdiam diri di rumah, penjarakan, dan budaya hidup bersih dalam kenyataannya sulit diwujudkan. Orang masih berkeliaran dan berkerumun di ruang publik, dan mobilitas penduduk juga masih tingggi. Fenomena tersebut, tanpa mengabaikan kebutuhan ekonomi untuk bertahan hidup, adalah juga kultur disiplin kita yang rendah. Kita tidak punya cukup keteguhan hati untuk menyendiri dan termenung. Budaya kita adalah perjumpaan, perkumpulan, dan sorak hore. Lihatlah para pekerja yang jenuh work from home, para pelajar yang boring belajar via daring karena lama tak berjumpa teman-teman sekolahnya, dan para remaja yang mati gaya dan gabut tinggal di dinding ruang sempitnya.
Jadi ajakan berdamai presiden Jokowi bukan hanya sebuah signal sifat kesatria seorang pemimpin mengakui keterbatasan negara dalam menjamin kehidupan warganya, namun sekaligus cermin masyarakat sendiri bahwa DISIPLIN masih menjadi barang mahal di negeri ini.
Berdamai dengan pandemic covid-19 bukanlah pilihan untuk menyerah, namun sebuah strategi menyusun kekuatan secara terukur untuk menyerang balik suatu saat nanti dengan kekuatan yang lebih sistematis, rapi, dan mematikan. Namun bukan hanya pemerintah yang menentukan kemenangan itu, masyarakat juga dituntut jujur pada dirinya sendiri; kapan sanggup hidup disiplin. Jika baik pemerintah maupun masyarakat tidak sanggup memenuhi persyaratan tersebut maka berharap pada bulan tertentu kurva corona akan menurun dan bahkan berhenti adalah angin syurga yang kita tak tahu kapan akan bernar-benar berhembus. Jika ini yang terjadi maka bersiap-siaplah berdamai dalam pengertian mengarah pada pilihan ketiga, yakni MENYERAH. Semoga tidak.
#bilikrenungeps7
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar