Senin, 30 Agustus 2021

NESTAPA NEGERI BENCANA

Secara geografis wilayah Nusantara adalah negeri yang rawan bencana alam. Terdapat sejumlah fakta geologis yang mendukung kesimpulan dimaksud, sejak dari keberadaan puluhan gunung berapi (cincin api dunia) yang berderet di sepanjang hamparan pulau-pulau nusantara. Begitu juga menurut berbagai ahli bencana bahwa letak geografis Indonesia berada pada pertemuan lempeng-lempeng besar di perut bumi yang jika bertumbukan, bergeser atau patah akan menimbulkan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, gelombang sunami, hingga memicu letusan gunung berapi. Begitu juga secara sosiologis, jika diamati pada sistem sosial bahwa keberadaan sistem kepercayaan, tradisi, dan kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat berlatarbelakang respon terhadap fenomena alam ini, baik dalam konteks memberi berkah maupun musibah. Ritus-ritus syukuran dan kegembiraan adalah bentuk respon terhadap alam yang bersifat memberi berkah, sedangkan ritual-ritual permohonan keselamatan dan tolak bala’ biasanya bentuk respon terhadap alam yang dianggap mendatangkan malapetaka. Pun pula hingga saat ini, negeri ini tak lepas dari deraan berbagai bencana, sejak dari gempa, erupsi gunung berapi, tanah longsor, banjir, wabah dan lain sebagainya. Sebelum lebih jauh membahas bagaimana konsep dan strategi mitigasi bencana, marilah terlebih dahulu mengkritisi apa dan bagaimana cara pandang bangsa ini mempersepsikan bencana itu sendiri. Langkah awal ini penting karena akan menjadi dasar dalam dimensi epistemologis dan eksiologisnya. Seperti apa bencana itu dipersepsikan akan berpengaruh terhadap apa yang akan dilakukan. Atau dengan kata lain, cara pandang sebuah bangsa terhadap bencana akan menentukan bentuk peradaban yang dihasilkannya. Dari hipotesa itu pula akan menentukan apakah sebuah bangsa dalam menangani sebuah bencana bisa dikatakan progress, stagnan, atau bahkan involusi dalam lintasan sejarahnya. Itu semua bisa dilihat dari berbagai indikator, seperti tingkat kerusakan yang ditimbulkan, jumlah korban jiwa, dampak ikutannya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan, dan seterunya. Sebenarnya Indonesia tidak sendirian sebagai negara rawan bencana alam. Di dunia ini terdapat beberapa negara yang juga bernasib rawan bencana, ambil saja contoh Jepang, Filipina, Turki, Iran, Meksiko, dll. Namun dari berbagai negara tersebut memunculkan beragam respon terhadap bencana di negerinya masing-masing yang akhirnya membentuk peradaban yang berbeda-beda pula. Mari kita ambil contoh Jepang, negeri samurai ini juga berada di cincin api dunia, terdapat beberapa gunung merapi dan juga sering diguncang gempa berkekuatan dahsyat. Bahkan istilah sunami itu sendiri riwayatnya juga berasal dari Jepang karena di sanalah awal mula gelombang besar yang diakibatkan oleh gempa bumi ini diteliti secara ilmiah. Walaupun Jepang termasuk bangsa yang konsisten dalam merawat tradisinya namun bangsa ini berhasil bertransformasi dalam cara berpikirnya melihat bencana menjadi lebih rasional. Bencana alam adalah fenomena alam. Di dalam alam semesta ini ada sistem dan hukum alam yang melekat pada realitas benda-benda yang ada di alam semesta ini. Ada kecenderungan hukum-hukum tersebut bersifat sistemik, konsisten, dan kontinum untuk menjamin kepastian dan ketertiban alam itu sendiri. Manusia sebagai salah satu penghuni di alam semesta ini juga masuk dalam sistem tersebut. Hanya saja manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki instrument berupa akal sehingga mampu membangun kesadaran dirinya keluar dari keniscayaan alamiah dan bahkan menjadi subyek dalam memanfaatkan alam. Dalam posisinya sebagai bagian dari alam namun memiliki potensi menjadi subyek dalam pengelolaan alam inilah dalam konteks bencana manusia mestinya memposisikan diri. Alam dengan segenap hukum-hukumnya harus diamati, diteliti, dan diselidiki dengan menggunakan akal sehatnya sehingga dapat diketahui unsur-unsurnya, hukum-hukumnya, perilakunya, dan lain sebagainya. Apa yang terjadi dalam fenomena alam dapat dicari hukum-hukum kausalitasnya. Dari hasil penggunaan akal sehat inilah jika terjadi sesuatu yang membahayakan bagi kehidupan manusia bisa diantisipasi secara tepat dan terukur, kalaupun bencana itu tetap terjadi maka kerusakan yang ditimbulkan dan jumlah korban jiwa bisa diminimalisir bahkan nihil. Dari jenis persepsi terhadap alam sedemikian rupa inilah akhirnya muncul ilmu pengetahuan dan teknologi mitigasi bencana yang hingga hari ini diadopsi berbagai negara di dunia. Jepang sebagai negara yang rawan gempa bumi menghasilkan seismograf yang menjadi cikal bakal berkembangnya teknologi seismograf modern, walaupun dalam sejarahnya penemu seismograf adalah ilmuwan China, Zhang Heng. Begitu juga dalam bencana sunami, Jepang menjadi pusat studi sunami di dunia karena temuan-temuan ilmiahnya sehingga jika terjadi sunami mitigasi bencana relatif bisa ditangani dengan baik. Contoh konsep kosmologis Jepang itulah sebagai salah satu contoh yang secara produktif menghasilkan peradaban yang bisa dimanfaatkan berbagai bangsa di dunia hingga sekarang ini, dan akan berkembang terus. Bagaimana dengan bangsa kita sendiri? Kita memang memiliki cara pandang tersendiri terhadap alam ini. Sebagai bangsa yang mengklaim sangat religious dalam melihat alam semesta ini lebih dipahami secara teologis dimana tuhan pusat segalanya. Tuhan dipercaya sebagai pencipta semua realitas alam ini, bahkan tuhan selalu hadir dan mengendalikan setiap kejadian alam semesta. Karena itu bencana alam adalah bagian dari kehendak tuhan, yang dalam tafsir subyektif pemeluknya dikaitkan dengan perilaku manusia. Dalam cara pandang ini bencana dipersepsikan sebagai musibah, cobaan, bahkan azab atau kutukan dari tuhan yang dikorelasikan dengan perbuatan manusia. Karena itu bentuk merespon bencana adalah ritual-ritual yang berisikan pertaubatan, doa, dan permohonan ampunan kepada tuhan. Yang lebih naif lagi adalah bencana diframing untuk kepentingan politik. Banyaknya bencana dikontruksi dalam opini public melalui berbagai media bahwa tuhan sedang marah karena kepemimpinan ini dan itu, sang pencipta tidak meridhoi kebijakan ini dan itu, dan lain sebagainya. Akibatnya, public menjadi lebih terkuras energinya untuk berpolemik, berdebat, saling serang, caci maki, adu nyinyir, daripada bekerja keras mencari solusi riil atas bencana yang sedang melanda. Padahal gempa tak pernah memilih tanah mana yang akan diguncang, dalam bencana banjir air tak pernah memilih ke arah mana harus mengalir, kecuali menaati hukum-hukum alamiah yang sudah ditetapkan dan dilekatkan oleh Sang Pencipta sendiri sejak awal mula penciptaannya. Manusia dengan potensi akal sehatnya mestinya bekerja keras untuk menjawabnya sebagai wujud mensyukuri anugerahNya. #bilikrenungeps41 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar