1001 MASJID DI JOGJA (Bagian 3)
Lanjutan dari 2 seri sebelumnya
1001 MASJID DI JOGJA
Oleh Saifudin Zuhri_
3) Masjid Eksklusif
Dalam komunitas muslim terdapat paham, aliran, kelompok, atau sekte yang memiliki pandangan konservatif dan nostalgik. Untuk menyebarkan pemahaman ini mereka berkelompok dalam sebuah gerakan eksklusif dan militan. Kelompok ini berobsesi dan berimajinasi bahwa paham ideologi yang mereka yakini wajib disebarkan kepada seluruh penjuru dunia dan seluruh umat manusia bahkan kalangan muslim sendiri yang dipandang belum kaffah atau belum beragama secara murni dan sempurna dalam menjalankan syari’ah Islam sesuai tafsir mereka. Karena itu diperlukan harokah (gerakan) dan tarbiyah secara sistemik, massif, dan kalau perlu keras dan tegas.
Konsep dan sistem kekuasaan yang mereka rujuk dari ayat-ayat dogmatic sesuai tafsir mereka harus menjadi roadmap dalam social engineering yang mereka bayangkan. Jika ada sistem kekuasaan dan tradisi beragama yang mereka anggap tidak sesuai dengan cara pandang mereka maka akan menjadi sasaran dakwah dan harokah mereka untuk diluruskan dan dimurnikan. Gerakan pemurnian menuju Islam kaffah ini menggunakan berbagai media dimana masjid menjadi salah satu markaz gerakannya. Masjid bukan hanya sekedar tempat sholat berjam’ah namun juga menjadi media berekspresi dan aktualisasi diri pemahaman yang mereka yakini, karena itu bagaimana cara ibadah yang menurut mereka bersih dari bid’ah dan khurofat akan mereka demonstrasikan. Inilah masjid eksklusif yang menjadi tempat aktualisasi diri ajaran mereka dan sekaligus menjadi tempat penyebaran paham atau aliran yang ekskusif pula.
Dari aspek arsitektur dan fasilitasnya masjid eksklusif ini tidak jauh berbeda dengan masjid pada umumnya, namun ekskusivitas itu akan terlihat dari aktivitas kajian, konten-konten ceramahnya, model busana yang dikenakan jama’ahnya, dan tata cara peribadatan. Setelah sholat jama’ah yang pada umumnya hanya ritual berdoa atau berdzikir namun pada kasus jama’ah masjid model ini ada tambahan kajian halaqoh yang berisi indoktrinasi ajaran dengan menyitir ayat-ayat atau dalil dari kitab tertentu yang dijadikan rujukan untuk menjustifikasi tafsir kelompok ini.
Orientasi penyebaran ajaran ekskusif ini ada dua titik tuju yang sedikit berbebeda, yang pertama ada yang hanya sekedar pemurnian ajaran peribadatan yang merujuk pada kelompok salafus-sholih atau lazim disebut aliran Salafi. Jenis ajaran salafi ini untuk konteks Indonesia ada yang menjelma dalam beberapa organisasi keagamaan seperti LDII, MTA, Jama’ah Tabligh, dan sejenisnya, selain Salafi itu sendiri. Yang kedua adalah yang berorientasi pada perjuangan sistem yang lebih besar dan luas. Kelompok kedua ini jauh lebih sistemik, fundamental, dan eskalasinya lebih ekspansif menembus batas teritori negara sekalipun. Gerakan kelompok kedua ini terkadang diinspirasi dari gerakan trans-nasional seperti Ikhwanul Muslimin, HTI, Al Kaeda, ISIS, JI, JAT, JAD, NII, dan kelompok klandestin yang bersifat anonim.
Prototype jama’ah masjid ini terkadang terlihat dari identitas pakaian yanag dikenakan dan gaya bersoleknya. Bagi kaum laki-laki terlihat mengenakan celana yang sedikit di atas mata kaki (congkrang) dengan memelihara jenggot walau dua lembar sekalipun, dahi mereka terlihat menghitam entah karena lamanya sujud atau tekanan yang terlalu kuat di lantai dengan rentang siku dan punggung yang lebih lebar daripada cara sholat pada umumnya. Cara mengatur shof sholat berjama’ahnya pun lebih rapat dimana antar ujung jari kelingking kaki saling bersentuhan antar jama’ah dan kaki ditegakkan agak lebar. Ciri-ciri jama’ah ini memang tidak selalu sama persis, seperti LDII dan MTA secara pakain yang dikenakan biasa saja, hanya saja ketika membahas tentang tradisi dan adat istiadat local ada kecenderungan untuk mendelete dari sistem budaya masyarakat setempat bahkan mengharamkannya.
Dan ketika Ramadhan tiba, tidak berbeda dengan cara pandang mereka yang telah dipaparkan di atas, masjid menjadi tempat persemaian mereka menebarkan ajarannya yang diyakini paling benar dan absolute. Tidak peduli yang dihadapi apakah kelompok paham masyarakat setempat atau bahkan negara sekalipun, jika dalam konsep, sistem, pemahaman, dan perilaku beragama dipandang tidak sesuai dengan doktrin-doktrin kelompok eksklusif ini maka akan diluruskan, dimurnikan, bahkan dibinasakan dan diganti dengan khilafah dan syariah yang bagi mereka obat mujarab cess pleng bagai iklan obat sakit kepala. Dalam konteks Indonesia yang plural dan beragam ini tentu hal ini menjadi masalah!
***
Dari paparan ketiga jenis masjid dalam tiga seri tulisan ini dapat disimpulkan bahwa keragaman jenis masjid dengan berbagai kharakteristiknya sekaligus menegaskan bahwa paham dalam Islam itu sendiri beragam. Namun jika kita kembali ke arti istilah “masjid” berasal dari kata dasar “sajada” yang berarti bersujud sehingga masjid adalah keterangan tempat yang berarti tempat sujud, mestinya masjid dikembalikan ke makna dasarnya.
Masjid adalah ruang fisik yang menjadi tempat dimana hamba secara nyata tunduk di dasar yang paling rendah di hadapan Tuhannya. Masjid mestinya menjadi ruang universal dimana yang hadir semata-mata berpredikat sebagai manusia, sebagai makhluk, sebagai hamba. Masjid adalah tempat dimana hamba membuktikan kehambaannya di hadapan Tuhannya yang Maha Lembut dan Maha Mendengar, karena itu untuk didengar keluhan hambanya tidak perlu diperkeras suaranya dengan bantuan toa seakan menganggap Tuhan itu dungu dan tuli. Masjid bukan tempat untuk saling mencaci maki dan memilah-milah manusia dengan sok tahu mana ahli syurga dan neraka.
Masjid tradisional yang berlumut tempat wudhunya silahkan dibersihkan asal tetap dirawat kearifan local yang penuh kehangatan yang ada selama ini. Masjid kosmopolit yang bergaya modern dan berkultur aristokrat itu jangan melupakan bahwa ruang publik adalah milik bersama yang beragam. Masjid eksklusif yang sangar dan menegangkan itu harus menyadari bahwa ini adalah Indonesia di abad 21 dan kedepan, jangan paksa untuk bernostalgia ke masa 14 abad yang silam.
1001 macam masjid di Jogja adalah gambaran bagaimana wajah kita dan juga Indonesia.
#bilik.renung.episode_080422#
0 comments:
Posting Komentar