1001 MASJID DI JOGJA (Bagian 2)
Lanjutan #bilik.renung.episode_060422#
1001 MASJID DI JOGJA
Oleh Saifudin Zuhri
2) Masjid Kosmopolit
Berbagai predikat disandang Jogja sejak dari kota sejarah, kota budaya, kota pelajar, daerah istimewa, dan lain-lain menandakan bahwa daerah ini memiliki rekam jejak yang begitu luas sejak masa lalu hingga hari ini. Gerakan modernisasi dalam pemikiran Islam juga menjamah daerah pedalaman selatan Jawa ini. Lahirnya Muhammadiyah yang dibidani oleh KH. Ahmad Dahlan dan juga tokoh penting dalam panitia 9 perumusan dasar negara yaitu Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu bukti betapa Jogja menjadi ikon gerakan pembaharuan Islam di Indonesia. Di era kontemporer dengan keberadaan lebih dari 100 perguruan tinggi menjadikan kota pelajar ini agen modernisasi pendidikan dimana pada akhirnya berimbas pada kehadiran jenis masjid kosmopolit di Kota Yogyakarta. Arus kosmopolitanisme masjid ini didukung oleh kultur mataraman yang terbuka dan toleran terhadap nilai-nilai baru.
Kosmopolit adalah sebuah gagasan yang bersifat preskriptif dan aspiratif yang meyakini bahwa umat manusia dapat dan harus menjadi "warga dunia" dalam sebuah komunitas universal. Cara pandang kosmopolitanisme ini mengintrodusir budaya modern dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan masjid. Masjid perlu dikelola secara modern untuk memaksimalisasi fungsi sosialnya. Ketika kharakter Islam sebagai agama misi (dakwah dan tabligh) bertemu dengan paradigma kosmopolitanisme ini maka ghirroh ekspansi Islam menjadi semakin eksesif.
Di tangan kaum kosmopolit ini masjid menjadi fasilitas strategis untuk aktualisasi di ruang publik. Masjid bukan hanya tempat ibadah spiritual yang hanya berdimensi hablumminallah namun berekspansi dalam fungsi-sungsi immanent kemasyarakatan, seperti pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan politik. Luasnya fungsi sosial masjid menuntut manajemen masjid menjadi lebih modern dan berkemajuan. Kosmopolitanisme masjid itu tercermin sejak dari arsitekturnya, tatakelolanya, pengurusnya, profile penceramahnya, konten ceramahnya, kelas sosial jama’ahnya, hingga fasilitas infrastruktur masjid.
Bentuk masjid kosmopolit mengikuti gaya arsitektur modern sesuai dengan model yang sedang trendy. Kubahnya berbentuk bulat ala masjid-masjid di negara-negara makmur Timur Tengah atau Turki. Kesan modern terlihat dari fasilitas di dalam masjid yang beralaskan karpet bludru nan empuk, cat tembok yang tidak selalu hijau sebagaimana identik di masjid-masjid NU tradisional, tempat wudhu dan tolitet yang bersih dan dijamin tidak ada air yang menggenang, perangkat sound sistem dengan brand bermerk, dan bahkan beberapa masjid kosmopolit ini berpendingan ruangan ber-AC.
Tatakelola masjid kosmopolit ini sudah sedemikian modern, sejak dari manajemen keuangan yang dikelola dan dilaporkan secara tertib, jadwal penceramah taraweh dan kultum shubuh disertai dengan judul-judul yang sudah disusun rapi oleh takmir masjid, sistem publikasi ala iklan barang-barang konsumsi dengan berbagai media, seperti baliho, poster, pamflet dan bahkan memanfaatkan media sosial. Manajemen waktu pelayanan masjidpun terjadwal bak kantor pemerintahan, ada jam buka tutup tertentu. Jangan berharap di masjid ini masyarakat umum dengan seenaknya numpang tidur atau sekedar leyeh-leyeh di karpet yang empuk itu, karena di dinding sudah terpasang pengumuman “tidak diperkenankan tidur di dalam masjid!!!”dan jika tidak pada jadwal sholat atau pengajian pintu masjid tertutup rapat bahkan terkunci.
Mimbar-mimbar masjid kosmopolit diisi oleh model penceramah yang dilihat dari bahasa, diksi yang dipakai, perspektif, dan tampilannya menandakan sosok dari kelas sosial menengah-atas berpendidikan, entah itu ustadz yang sedang naik daun, akademisi, bahkan pejabat publik yang kebetulan sedikit menguasai beberapa dalil. Isu dan isi ceramah menyasar berbagai aspek kehidupan ummat yang coba dinarasikan bahwa Islam mampu mentransformasi norma skriptualistiknya dalam realitas kehidupan nyata, karena itu tidak jarang di mimbar masjid itu para pengkhutbah menyinggung tentang langkanya minyak goreng di pasaran, kenaikan harga pertamax, dan sejumlah isu seksi yang bernada oposan terhadap pemerintah yang kebetulan tidak berasal dari kubu dukungannya. Demikian halnya toa masjid-masjid kosmopolit ini bukan hanya digunakan untuk mengeraskan suara adzan dan berita duka, namun juga untuk mengumumkan kepentingan hidup kewargaan, seperti pengumuman kerjabakti, pengumuman pajak IMB, kumpulan warga, vaksinasi, arisan, dan lain sebagainya. Masjid seakan mengambil alih peran-peran pelayanan publik yang mestinya menjadi leading sector pemerintah tingkat bawah seperti RT, RW, Dukuh, PKK, Karangtaruna, Pak lurah dan perangkatnya.
Profil imam sholat di masjid kosmopolit ini tidak mesti harus berusia sepuh yang dianggap menandakan kematangan spiritualitas (sebagaimana lazim ada di masjid-masjid tradisional NU), tapi usia muda pun tidak masalah yang penting terkesan santun, berbaju koko rapi, dan memiliki bacaan surat-surat yang agak panjang-panjang walau tidak popular di telinga jama’ahnya. Sholat taraweh di masjid kosmopolit ini memang cuma 11 rok’at namun durasinya bisa lebih panjang daripada yang 23 roka’at di masjid ala NU itu. Barisan dan suasana barisan sholat bak barisan kopasus di upacara bendera, rapi, lurus, dan rapat. Suasana di dalam masjid pun begitu hening dan serius seakan-akan akan menghadap seorang birokrat dengan protocol ketat. Begitu juga prototype makmum sholat adalah masyarakat umum yang kadang tidak saling kenal, kalaupun kenal minim komunikasi face to face, bajunya rapi yang memang dikenakan khusus untuk sholat berjamaah, peci yang dipakai bisa beragam sejak dari ala songkok hitam, ala peci haji, ala Turki, ala Afganistan, ala Mesir, dan lain sebagainya.
Masjid-masijid kosmopolit ini menjamur dengan radius berdekatan di kota Jogja, kota-kota kabupaten sekitarnya, kompleks perumahan, dan kampus-kampus besar di Yogyakarta. Melihat fenomena ini saya jadi ingat wejangan guru saya 20 tahun bahwa suatu saat masjid akan menjadi institusi sosial yang sangat krusial dalam ruang publik dan bisa jadi akan merebut peran negara. Wallahu’alam….
#bilik.renung.episode_070422#
0 comments:
Posting Komentar