1001 MASJID DI JOGJA (Bagian 1)
1001 MASJID DI JOGJA
(Ramadhan Edisi 5)
Oleh Saifudin Zuhri
Tempoe doeloe ketika Ramadhan tiba terdapat dua kategori masjid yang sangat popular, yaitu masjid yang sholat tarawehnya (plus witir) jumlah raka’atnya 23 dan 11 raka’at. Yang 23 raka’at diidentifikasi sebagai masjidnya kaum nahdhiyyin (NU) dan yang 11 raka’at biasanya berbasis komunitas Muhammadiyah. Namun seiring waktu kategorisasi itu kian cair dan bermetamorfosis menjadi berbagai jenis baru seiring dengan perkembangan paham Islam di tlatah Mataraman.
Wilayah Yogyakarta adalah daerah dimana berbagai kelompok dan kharakter paham keagamaan bertemu. Kharakter budaya Jawa mataraman yang relatfe terbuka menjadi prakondisi hadirnya beragam kelompok, paham, aliran keagamaan. Dalam beberapa dekade akhir-akhir ini wilayah Jogja muncul beragam jenis masjid yang sekaligus melahirkan kategorisasi baru masjid-masjid yang ada Jawa bagian selatan ini.
Berikut dipetakan jenis-jenis masjid di wilayah Yogyakarta yang sekaligus merepresentasikan peta paham, kelompok, dan aliran Islam di tanah Jawa. Kategorisasi dibangun atas beberapa indikator yang ditemukan penulis, sejak dari tata kelola masjid, penceramah, model penafsiran, dan jama’ah yang hadir. Kategorisasi ini bersifat kecenderungan umum (generalisasi) sehingga sedikit mengabaikan varian-varian kecil yang ada di dalamnya.
1) Masjid tradisional
Jenis masjid ini berada dalam sebuah kultur masyarakat pedesaan tradisional. Dalam kultur masyarakat ini masjid hanyalah salah satu institusi sosial dalam kehidupan masyarakat. Masjid merupakan salah satu fasilitas umum di antara fasilitas lain di ruang publik, seperti balai desa, balai RT/RW, pos ronda, pasar, makam, prapatan, pengkolan, teras rumah priyayi dermawan, lapangan sepak bola, lapangan volley, dan lain sebagainya. Semua fasilitas tersebut memiliki fungsi masing-masing sesuai ranahnya. Walaupun di masjid ini dipasang toa pengeras suara namun hanya digunakan untuk mengumumkan hal-hal yang terkait peribadatan, seperti adzan, pengajian, dan berita duka jika ada salah satu anggota masyarakat yang meninggal dunia.
Masjid tradisional adalah bagian dari budaya masyarakat setempat, realitas yang ada di masjid seiring dan sejalan dengan kharakter dan dinamika masyarakatnya dalam berbagai aspeknya, sejak dari bentuk arsitekturnya, tatakelolanya, dan kulturnya. Di masjid yang kontruksi bagian atas berbentuk seperti stupa limasan (tidak berbentuk kubah ala negara-negara Timur Tengah atau Turki) ini dikelola dengan kultur manajemen tradisional pula. Catatan keuangan kotak infak ala kadarnya bahkan tidak perlu dicatat, selain karena jumlahnya tidak seberapa trust antar warga sedemikian kuat. Pintu masjid terbuka 24 jam non stop bahkan kunci pintunyapun tidak ada. Masjid menjadi tempat terbuka untuk siapa saja dan apa saja, karena itu pemuda kampung setempat nyaman berkumpul ngobrol ngalor-ngidul penuh sendau gurau, bahkan masjid menjadi tempat tidur yang nyaman walau tanpa bantal dan kasur.
Sholat taraweh di masjid model ini biasanya berjumlah 23 raka’at dengan kecepatan ala bus patas Sumber Kencono yang tempo dulu merajai jalanan di Jawa timuran. Sang imam sholat tak perlu memilih ayat-ayat Al Qur’an yang panjang-panjang yang tidak begitu popular di telinga jama’ahnya. Surat dengan awalan “qolhu”, “inna a’thoina”, dan penggalan surat super pendek yang berupa huruf-huruf hijaiyah paling sering digunakan daripada surat-surat panjang yang membuat makmum kurang iklhas mendengarkannya. Dalam ritual sholat ini Gusti Alloh yang sedang disembah dipersepsikan memiliki sifat Maha Mengerti dan Maha Akrab dengan hamba-hambanya, maka sholat bukanlah birokrasi yang rumit dan menegangkan. Demikian halnya dalam serangkaian sholat taraweh itu tidak perlu ada ceramah, khutbah panjang lebar indoktrinasi kepada para jama’ah dengan dalil-dalil tertentu. Kalaupun ada ceramah itu sekedar pengumuman dari nadzir masjid atau sekedar wejangan singkat dari mbah modin atau kiai kampung yang juga tetangganya sendiri.
Budaya dan perilaku jama’ahnya adalah juga kultur yang menjadi identitas warga desa. Jama’ah yang datang ke masjid adalah juga warga kampung setempat yang akrab dan saling mengenal. Pakaian yang dikenakan jama’ah laki-laki tidak harus pakaian khusus untuk sholat, seperti gamis dan baju koko. Karena itu banyak dijumpai mengenakan kaos bertuliskan iklan tertentu hingga kaos bergambar wajah calon pilbub, pilpres, pileg di punggung mereka. Tidak masalah yang penting bersih dan suci. Songkok yang digunakan adalah songkok hitam ala Presiden RI pertama Soekarno yang kadang warnanya sudah sedikit kusam, kalaupun ada satu dua orang yang menggunakan songkok putih adalah orang yang memang pernah naik haji. Sarung-sarung yang mereka gunakan sekedar dipakai untuk menutupi aurat yang dipersyaratkan dalam sholat, karena itu bau khas dan ngetril karena tanpa disetrika adalah hal yang lumrah. Jika mereka keluar masjid sandal merk Swallow, Lily, dan Daimatu siap mengalasi kaki-kaki mereka yang bagian tumitnya pecah-pecah akibat sering bergelut dengan lumpur sawah ladang mereka.
Masjid bukan hanya tempat ibadah yang semata-mata berdimensi vertical hablum-minallah, namun masjid adalah salah satu ruang publik di desa dimana warga merawat kearifan lokal yang membuat meraka kuat dan enjoy menghadapi realitas hidup yang tidak selalu manis. Kepahitan hidup karena desa mereka yang terpinggirkan dalam deru pembangunan modern ternetralisir oleh gelak tawa suasana masjid pedesaan yang menentramkan walau bangunan masjidnya sederhana dan apa adanya. Dari corong-corong masjid tak pernah keluar suara kebencian dan pekikan penegasan identitas antar kelompok karena masjid adalah juga bagian dari desanya, masjid adalah bagian dari dirinya sendiri. Di masjid ini mereka menikmati suasana sebagai sesama warga desa dan manusia yang sama di hadapan Gusti Alloh.
Masjid semacam ini memang kian terpinggirkan dan langka di wilayah Yogyakarta di tengah laju modernisasi. Secara geografis berada di wilayah-wilayah pedesaan pinggiran Jogja seperti daerah Cangkringan, Tempel, Ngaglik, sebagian desa-desa di Bantul, dan beebrapa desa di daerah tandus Wonosari Gunung Kidul.
_(Bersambung…..)_
2) Masjid kosmopolit
……………………………………………………
3) Masjid ekslusif
……………………………………………………
#bilik.renung.episode_060422#
0 comments:
Posting Komentar