ANARKHISME TUBUH DAN MESIN SELERA
ANARKHISME TUBUH DAN MESIN SELERA
_(Edisi Ramadhan 4)_
Oleh Saifudin Zuhri
Ada berbagai macam definisi siapa hakikat manusia yang dikemukakan oleh pemikir Barat, sejak dari yang menganggap manusia sebagai zoon politicon oleh Aristoteles, makhluk rasional oleh Descartes dengan statemen yang cukup popular di kalangan pemuja rasionalisme “Cogito Ergo Sum”, Homo Faber oleh Karl Marx, Homo Economicus oleh John Stuart Mill, Interaksi Sosial oleh Habermas, dan lain sebagainya. Sementara dari dogma agama ada sejumlah pengertian yang diajarkan berdasar dari kitab suci itu, sejak dari manusia adalah khalifah, hamba ciptaan Tuhan, “anak tuhan”, reinkarnasi roh-roh tertentu, dan lain sebagainya.
Dari sekian definisi yang dipaparkan ada satu fakta yang semua perspektif tidak mungkin memungkirinya, yaitu bahwa manusia mempunyai dimensi fisik yakni tubuhnya sendiri. Namun dimensi ini kerap kali disangkal atau paling tidak dipandang rendah daripada dimensi yang lain, seperti ruh (jiwa) yang dipersepsikan lebih suci, akal yang diposisikan lebih mulia, dan dimensi psikis yang dianggap lebih dinamik. Para pemikir sekuler memposisikan tubuh sebagai pasar untuk menjual komoditas apapun yang diproduk dari konstruksi gagasan mereka. Sementara institusi agama atas nama kesucian ruh mensubordinasi tubuh sebagai sumber dosa dan kerendahan.
Baik cara pandang sekuler maupun religi sama-sama meletakkan tubuh pada posisi subordinatif dari dimensi manusia yang lain. Berdasar dari paradigma inilah perlakukan terhadap tubuh bersifat kontradiktif dan hipokrit. Lihatlah bagaimana modernisme sebagai karya peradaban rasional manusia yang seakan-akan mendewakan tubuh tapi sebenarnya merusaknya dengan berbagai gaya hidup modern yang diciptakannya. Berbagai kiat hidup sehat seakan-akan diiklankan di berbagai media yang begitu massif, namun di satu sisi pola makan, jenis konsumsi, waktu tidur, dan aktivitas gerak badan dirusak oleh ritme dan gaya hidup modern. Gaya hidup modern bagaikan mesin selera yang memposisikan tubuh untuk memasarkan apa saja.
Dogma agama pun demikian. Dalam mainstream tafsir agama porsi pengagungan ruh jauh lebih dominan daripada penghargaan terhadap tubuh, bahkan dalam lantunan doa cenderung menganggap tubuh adalah kotor, hina, dan duniawi semata. Ada banyak tafsir bahwa rohani lebih suci daripada jasmani, akherat lebih utama daripada dunia, dan lain sebagainya. Karena itu bisa dipahami mengapa agama dalam persepsi yang demikian kerap kali menghadirkan perilaku yang hipokrit dan tidak sportif, berdoa ingin panjang umur namun gaya hidupnya tidak sehat, jika tertimpa penyakit menyederhanakan bahwa itu cobaan dan takdir Tuhan, dan seterusnya.
Hadirnya pandemic global covid 19 yang mengguncang peradaban modern dengan berbagai dampaknya mestinya menjadi momentum umat manusia merenungkan ulang cara pandangnya melihat tubuhnya sendiri selama ini. Dari bencana global pandemic ini manusia modern dipaksa tersadar bahwa kesehatan fisik itu penting dan menentukan. Tubuh adalah kehadiran itu sendiri dimana manusia ada di dunia dan mengembangkan peradabannya. Tubuh bukanlah dimensi tambahan yang dianggap pengganggu kesucian ruh dan kemuliaan akal. Badan adalah fakta sekaligus penentu eksistensi. Pemilahan dimensi manusia terdiri dari jasmani dan rohani bukan dengan cara diperhadapkan bahwa jasmani lebih rendah daripada rohani. Namun memposisikan tubuh sebagai bagian integral dari diri manusia itu sendiri. Karena itu sayangilah tubuhmu yang juga adalah dirimu sendiri. Rawatlah dia secara proporsional. Makanlah ketika lapar, tidurlah ketika kantuk tiba, dan istirahatlah ketika lelah mendera.
Ibadah puasa Ramadhan adalah bagian dari maintenance tubuh supaya lebih sehat. Memang ada pelarangan makan dan minum dalam batas tertentu namun itu berada di ambang batas yang secara biologis bisa ditoleransi. Puasa ngebleng (berhari-hari tidak makan dan minum) dilarang dalam Islam karena secara biologis itu merusak dan melampaui batas kemampuan tubuh. Maka sayangilah tubuhmu dimana ruhmu dititipkan hingga suatu saat kembali kepada Sang Pengampu ruh itu sendiri, TUHAN.
#bilik.renung.episode_050422#
0 comments:
Posting Komentar