Minggu, 08 Mei 2022

REJEKSI KITAB SUCI

REJEKSI KITAB SUCI (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Sejauh pengamatan saya belum ada agama manapun di dunia ini yang ummatnya memposisikan kitab sucinya (Al Qur’an) begitu militant dan bersemangat melebihi ummat Islam. Saking semangat dan emosional menjaga kesucian kitab Alqur’an muncul berbagai etika dan tradisi khas yang tidak terjadi di komunitas ummat agama lain. Apa saja fenomena tradisi itu? Apakah cara penghormatan terhadap kitab suci itu terkorelasi dengan kemampuan memahami makna yang tersirat dari yang tersurat dalam ayat-ayat yang dibaca bahkan dihafal? Bagaimana pula kebaradaan dogma-dogma kitab suci itu dengan scientific yang selalu berkembang? Penghormatan yang begitu militant dan fanatic terdahap kitab suci ini terlihat dari berbagai tradisi yang selama ini ada di komunitas muslim di Indonesia, seperti tadarus setelah sholat taraweh, gerakan one day one juz, tahfidz qur’an, dan sejumlah etiket dalam memperlakukan fisik mushaf Al Qur’an. Predikat hafidz Qur’an bahkan mendapat maqom yang begitu mulia dalam struktur literasi ilmu agama. Mushaf Al-Quran yang terdiri atas 30 juz, 114 surat, 6.236 ayat, dan 77.845 kata dihafal di luar kepala oleh orang yang secara bahasa berbeda dengan bahasa ibunya adalah hal fenomenal. Namun sayangnya penghafalan secara lisan itu tidak secara otomatis terkorelasi dengan pemahaman makna yang dikandungnya. Secara historis keberadaan hafidz Quran bisa ditelusuri sejak jaman nabi yang bisa ditemukan rasionalitasnya baik secara politis maupun teknologis karena waktu itu belum ada teknologi media cetak yang mendokumenkan ayat-ayat dengan baik dan aman sehingga penjagaan ayat-ayat yang diturunkan itu bersandar pada hafalan para sahabat. Ketika sahabat penghafal Qur’an ini banyak yang meninggal karena perang maka Nabi Muhammad mengeluarkan banyak hadist yang bernada persuasif dan motivasi menghafal Al Qur’an karena waktu itu dengan cara itulah ayat-ayat yang sudah diturunkan itu bisa dijaga. Untuk konteks saat ini sayangnya, menghafal Al Qur;an bukan untuk kepentingan dokumentasi namun lebih pada ritual ibadah yang dijanjikan sejumlah predikat mulia dalam norma Islam, seperti jaminan ahli syurga, citra sebagai anak sholeh, dan lain sebagainya. Reduksi menghafal Al Qur’an hanya sebagai ritual lisan semakin menjauhkan upaya eksplorasi memahami makna yang tersurat, apalagi lebih jauh pada upaya mengkorelasikan dengan pengembangan temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Qur’an yang diturunkan dari langit sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia akan kembali ke langit ketika upaya penjagaannya berhenti pada penghafalan lisan tanpa diimbangi upaya eksplorasi makna dan penterjemahannya dalam kehidupan nyata. Inilah rejeksi kitab suci. #bilik.renung.episode_090422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar