Minggu, 08 Mei 2022

DIA TIDAKLAH DIA, KAMU BUKANLAH KAMU, DAN AKU PUN BELUM TENTU AKU

DIA TIDAKLAH DIA, KAMU BUKANLAH KAMU, DAN AKU PUN BELUM TENTU AKU. (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang kian melekat dalam tubuh manusia semakin menguatkan fenomena simulacrum yang sudah lama digagas oleh Jean Baudrillard dalam mengamati subyek di hadapan industri media. Dalam teori simulacra Baudrillrad menjelaskan bahwa realitas dalam media adalah realitas semu dimana sesuatu kebenaran dimipulasi agar masyarakat mengikuti dan mengkonsuminya.Dalam media manusia dikonstrtuksi dalam berbagai wajah kepalsuan yang hakikatnya bukan dirinya. Manusia bisa berubah tiap saat dikadarkan dari sejauh mana rambatan transmisi pesan memapar dirinya. Di era new media dan masyarakat informasi sekarang ini wajah manusia bisa menjelma dalam seribu rupa. Dalam situasi semacam ini jangan terlalu cepat percaya siapa dia, kamu, dan bahkan dirimu sendiri. “Rakyat” belum tentu rakyat, “penguasa” belum tentu penguasa, “alim ulama” belum tentu alim ulama, “akademisi” belum tentu akademisi, “mahasiswa” tidak secara otomatis adalah mahasiswa, dan seterusnya. Hidup di jaman medsos memang semua orang bisa memproduksi berita namun sekaligus juga sulit untuk dipercaya. Saiki jaman edan neg ora edan ora keduman. Begitu adagium popular yang berabad-abad telah diterka oleh para pujangga. Ngedan pun di jaman edan perlu keahlian biar tidak menjadi korban. Isu kencang bahwa besok istana akan dikepung ribuan massa yang dimotori oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia (BEM I) memang membuat hati bertanya-tanya. Apakah gerakan yang mengatasnamakan mahasiswa adalah mahasiswa, dalih membela kepentingan rakyat adalah rakyat. Siapa sesungguhnya mereka akan terlihat dari paradigma, perilaku, dan gerakan mereka apakah merepresentasikan predikat mereka. Atau semua ini hanya isu media belaka. Mari kita lihat besok. Pada era masa lalu, sebelum hadirnya medsos, di era rezim otoriter Orba tidak terlalu rumit mengidentifikasi siapapun yang berdiri gagah mengkritik pemerintah dan dengan mudah pula menjatuhkan keberpihakan dan dukungan. Namun sekarang bungkus jaket almamater, pekik teriakan yang seakan-akan heroik membela public bukanlah jaminan bahwa derap barisan demonstran adalah pembela kebenaran. Puasa Ramadhan mengajarkan manusia untuk lebih banyak mengendap melihat siapa hakikat dirinya sendiri. Semestinya Ramadan adalah bagai wahana pertapaan hamba untuk moksa di tengah seribu cermin wajah diri yang tak selalu asli. Mari kita nanti esok hari….. #bilik.renung.episode_100422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar