SULITNYA MEMBEDAKAN DEMO MAHASISWA DAN DEMO PANCI DI ERA MEDSOS
SULITNYA MEMBEDAKAN DEMO MAHASISWA DAN DEMO PANCI DI ERA MEDSOS
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Dalam sejarah Indonesia mahasiswa menjadi agen perubahan dalam berbagai jenis era bangsa ini. Sejak periode awal republik ini berdiri, era orde lama, orde baru hingga berhasil melengserkannya, gerakan mahasiswa memiliki peran heroik walau bukan faktor tunggal dalam menentukan arah jarum sejarah. Predikat mulia yang disandang mahasiswa karena dianggap merepresentasikan rasionalitas, idealis, dan menyuarakan hati nurani rakyat. Mahasiswa adalah bagian masyarakat kampus sehingga pola pikirnya dan perilakunya mencerminkan kaedah-kaedah akademik yang berakal sehat, obyektif dan steril dari kepentingan politik praktis. Apalagi tidak banyak pemuda di Indonesia bernasib baik mampu melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi, maka gelar mahasiswa menjadi semakin mentereng dan keren.
Mahasiswa lahir dari rakyat dan hidup bersama rakyat, karena itu mahasiswa juga tidak terpisahkan dengan berbagai dinamika dalam masyarakatnya sendiri. Pasca berakhirnya rezim otoriter Suharto dan bergulirnya era reformasi hingga sekarang ini, Indonesia memasuki babak baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ruang publik menjadi kian terbuka dan bebas sehingga segenap entitas sosial leluasa mengaktualisasikan diri. Kebebasan ini bukan hanya berdimensi internal antar anak bangsa namun juga berdimensi eksternal. Fenomena kebebasan ini menjadi angin segar bagi pemain-pemain global untuk menggurita dalam berbagai aspek kehidupan.
Hadirnya revolusi industri 4.0 adalah salah satu paket global yang sekarang sedang merentangkan sayapnya secara massif dan menerjang siapa saja dan institusi apa saja, sejak dari negara, masyarakat, korporasi, lembaga pendidikan, dan tak terkecuali dunia mahasiswa. Kampus tempat mahasiswa menimba ilmu pengetahuan juga tak bisa menghindari segenap regulasi yang diciptakan untuk berdaya saing di pasar global. Lihatlah bagaimana perguruan tinggi terkuras energinya untuk beradaptasi dengan sekian standar baik nasional maupun internasional supaya mendapat status terakreditasi tertentu.
Dosen sebagai pendamping mahasiswa dalam proses pembelajaran dan juga tugas tridharma yang lain (pengabdian dan penelitian) akhirnya kelelahan karena juga harus menyisakan waktu dan tenaga untuk mengisi berbagai aplikasi laporan kinerja dosen yang begitu njelimet dan memusingkan. Sistem aplikasi yang sebenarnya instrument dan media dalam merekam jejak kinerja dosen justru menjadi sumber inisiatif dosen melakukan kerja-kerja akademiknya. Berapa jumlah kelas dosen mengajar lebih didasarkan pada standar yang diwajibkan dalam sistem aplikasi.
Begitu juga penelitian yang menjadi ujung tombak dalam temuan dan pembaharuan ilmu pengetahuan termanipulasi hanya untuk formalitas, bahkan karya publikasi yang mestinya menjadi media penyebaran ilmu dan data juga didistorsi untuk point-point dalam sistem aplikasi. Demikian halnya pengabdian kepada masyarakat yang mestinya begitu mulia untuk memberdayakan dan memberi pencerahan kepada masyarakat juga dilaksanakan secara asal-asalan yang penting dokumen administratifnya terpenuhi. Masyarakat tidak menjadi wahana untuk beramal jariyah ilmu dosen untuk diabdikan.
Tridharma perguruan tinggi yang sebenarnya dikonsep untuk tujuan mulia dan seimbang bagi profesi seorang dosen tereduksi dan terdistorsi oleh tuntutan regulasi yang dijalankan oleh mesin-mesin aplikasi penghitung skore. Muara dari semua itu adalah reward dana tunjangan sertifikasi dosen yang jika cair belum tentu dialokasikan untuk membeli buku bahan ajar, jurnal, dan sumber belajar yang lain, namun sibuk dialokasikan untuk mengangsur kendaraan pribadi, memperindah rumah, piknik, dan pernak-pernik gaya hidup lainnya.
Permohonan maaf perlu diajukan kepada mahasiswa jika dalam proses pembelajaran dosen tidak maksimal. Mahasiswa yang mestinya dicerahkan dengan pemikiran kritis justru diajak masuk dalam ritual pembelajaran yang menjenuhkan dan teks book dengan tampilan bahan ajar yang itu-itu saja tiap semester. Indikator capaian pembelajaran memang teraih dengan nilai indeks prestasi yang baik bahkan sempurna, namun tidak secara otomatis paham dengan realitas masyarakat, bahkan di level logika dasar dan identifikasi masalah sekalipun.
Dalam dunia kehidupan mahasiswa sendiri juga didera bertubi-tubi banjir bandang kapitalisme global dengan berbagai paketnya, seperti gaya hidup hedonis dan industri teknologi informasi. Mahasiswa tidak lagi kurang tidur karena mengerjakan tugas kuliah hingga fajar menyingsing, namun ngantuk pada jam pembelajaran karena semalaman bermain game online, nonton drama Korea, nongkrong di kafe-kare dan sejumlah gaya hidup hedonis lainnya. Berbaris-baris mampu membuat status di media sosial tiap saat namun terpaku tak bergerak ketika di hadapan keyboard computer untuk membuat makalah, dan akhirnya copy paste mencuri karya orang lain menjadi jalan pintas.
Di tengah perubahan era media sosial sekarang ini berharap aksi demonstrasi mahasiswa yang akhir-akhir ini digerakkan di berbagai kota besar di Indonesia adalah mahasiswa yang idealis, rasional, dan steril dari kepentingan adalah harapan yang agak berlebihan. Selain karena basis akademiknya sudah kian menua dan kelelahan oleh imperasi regulasi, mengidentifikasi siapa kawan dan siapa lawan dalam gerakan mahasiswa Indonesia juga sulit dipetakan. Berbeda dengan rezim Suharto yang jika mahasiswa menggelar aksi demo tentang apa saja dan dimana saja dipastikan mendapat simpati publik, demo jaman now kian semrawut hingga sulit dibedakan mana demo mahasiswa, mana demo penjual panci di perkumpulan PKK dan arisan ibu-ibu. Semua sama-sama sarat kepentingan.
Atas dasar nostalgia dan rindu masa laluku, ingin rasanya membalas pekikan segerombolan demonstran yang meneriakkan kata khas yang 1998 dulu mendirikan bulu kudukku sehingga putus urat takutku berhadap-hadapan dengan pasukan loreng berwarna hijau; “hidup mahasiswa…..!!! hidup mahasiswa….!!” namun kuurungkan niatku membalas pekikan itu; sambil menunduk akupun bergumam: “ah…jangan-jangan…????”
#bilik.renung.episode_110422#
0 comments:
Posting Komentar