Minggu, 08 Mei 2022

INVOLUSI DALAM AGAMA

INVOLUSI DALAM AGAMA (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Pada masa awal kehadiran risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, gerakan Islam merupakan antithesis terhadap sistem jahiliyah yang ketika itu menguasai struktur sosial masyarakat Arab. Sebagai antithesis maka Islam berposisi oposan terhadap sistem kekuasaan yang begitu hegemonik kala itu. Islam yang membawa isu kesetaraan, keadilan, dan pembebasan mempesona masyarakat Arab (terutama bagi budak danperempuan) yang sudah sekian lama terbelenggu di bawah kooptasi sistem pagan, tribalisme dan jahiliyah. Dimulai dengan penawaran konsep dasar ketuhanan yang bersifat abstrak dan non bendawi dan sistem sosial egaliter yang mendudukkan manusia sama. Islam pada periode awal ini (popular disebut dengan periode Makkah) adalah Islam pembebasan yang menembus batas sekat-sekat sosial yang begitu diskriminatif dan menindas yang sengaja dibangun para elitnya untuk mempertahankan status quo. Kultur paganisme dan tribalisme yang mengikat kohesi sosial berdasar ikatan suku (‘ashobiyah) yang dipersonifikasi dalam wujud fisik berhala-berhala yang dipuja dalam berbagai ritual itu didekonstruksi oleh gerakan pembebasan Muhammad bahwa semua manusia berkedudukan sama di hadapan Tuhan. Sebagai gerakan perlawanan terhadap sistem keyakinan yang ada maka diksi yang Muhammad gunakan untuk kalimat penyeruan adalah “hai manusia”. Dipakainya istilah “manusia” menandakan bahwa atribut dan status sosial apapun tidak digunakan dan diganti dengan nilai universal yang melampaui predikat apapun. Pesan mendasar ini mestinya menjadi spirit dalam cara pandang beragama. Mengapa Islam diterima masyarakat kala itu karena tawaran nilai menembus batas. Kemampuan melampaui ini karena adanya konsep ketuhanan yang rasional dan sistem sosial yang egaliter. Rasionalitas dalam bertuhan inilah yang akhirnya menghancurkan konsep bertuhan yang disimbolisasi dalam wujud fisik berhala-berhala. Pengelompokan sosial tidak lagi berdasar ikatan feodal sebelumnya seperti garis keturunan, jenis suku, jenis kelamin, dan lan sebagainya, namun didasarkan pada logika, akal sehat, dan kebenaran. itulah mengapa Islam akhirnya diterima dan menjadi sumber pencerahan di jazirah Arab kala itu. Jika pada hari ini ada sekelompok umat Islam yang fanatik membabi buta dengan kelompoknya atas dasar persamaan persepsi (tafsir), kesamaan organisasi, kesamaan tokoh idola, satu frekuensi dalam bergaya hidup agama dan berbagai ikatan primitif lainnya maka cara beragama semacam itu sesungguhnya sebuah involusi dalam beragama. Peradaban Islam yang dibangun dengan susah payah untuk menebarkan rahmatan lil’alamin kembali ke titik balik jaman jahiliyah. Dan jika ini terjadi akan semakin dekat dengan sebuah prediksi beberapa abad silam bahwa akan datang suatu jaman dimana Islam akan jatuh justru oleh pemeluknya sendiri (al islamu mahjuubun bil muslimin). Ketika kemarin ada tragedi kebrutalan dan kebiadaban terhadap penggiat sosial Ade Armando dalam aksi demo 11 April di Jakarta, jangan-jangan itu adalah salah satu tanda-tanda jaman. #bilik.renung.episode_120422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar