Minggu, 08 Mei 2022

BANGSA YANG LUPA MEMBUAT ALAT

BANGSA YANG LUPA MEMBUAT ALAT (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Ada adagium yang cukup popular dalam upaya memberdayakan bangsa ini, seperti “berilah kail jangan beri ikan”. Semboyan tersebut mempersuasi khalayak supaya jangan dimanjakan tetapi didorong untuk bekerja keras. Anjuran untuk kerja keras ini bahkan menjadi tagline pemerintahan Jokowi dengan jargon yang sangat popular: “kerja..kerja..kerja...!!!” Kabinetnya pun dinamai dengan “Kabinet Kerja”. Kesemua jargon penuh semangat itu ingin merubah orientasi pembangunan yang selama ini bertumpu pada sektor konsumsi digeser ke sektor produksi. Penggeseran ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas import dan menaikkan daya saing nilai eksport, karena itu layak diapresiasi dan didukung. Walaupun analogi menggeser dari “memberi ikan” ke “memberi kail” menarik dan positif namun ada pertanyaan kritis yang patut diajukan, yaitu bagaimana cara mendapatkan pancing itu? Apakah dengan cara membeli atau membuat sendiri? Jika hanya dengan cara membeli, bukankah cara itu juga sama dengan ketergantungan terhadap komoditas import? Jika ingin membuat sendiri, prasyarat apa yang mesti dipenuhi? Tentu saja pilihan pada pertanyaan yang terakhir. Dalam berbagai jenis pekerjaan di Indonesia jarang sekali ditemukan penciptaan peralatan untuk bekerja. Lihatlah bagaimana para petani menggarap lahannya dengan peralatan cangkul dan arit yang begitu-begitu saja sejak dulu, begitu juga para nelayan, kuli bangunan, pembantu rumah tangga, kerja kantoran, dan lain-lain, relatif tidak ada pembaharuan peralatan dalam bekerja. Bahkan alat-alat yang sudah ada itupun terkadang didapat dari import, kalaupun ada pembaharuan itupun inisiatifnya dari negara lain. Bangsa ini memang berabad-abad terlanjur nyaman membeli, menggunakan, dan mengkonsumsi, sedangkan untuk berinisiatif membuat, mencipta dan berkreasi sangat lemah. Kerja untuk membuat peralatan adalah sama pentingnya dengan kerja itu sendiri. Untuk miliki kemampuan mencipta diperlukan prasyarat sejak dari ide-ide, gagasan, prediksi, sistem budaya hingga hal-hal teknis seperti berpikir positivistik, manajemen, kerja keras, dan lain-lain. Wacana dominan di ruang-ruang public kita adalah tentang bagaimana bicara, bagaimana berteori, dan hal-hal abstrak yang memenuhi fikiran dan rongga dada kita. Lihatlah bagaimana mimbar-mimbar masjid dan musholla di bulan Ramadhan dipenuhi khutbah-khutbah tentang masa lalu, langit, dan penghiburan dalam kekalahan hidup yang dari tahun ke tahun diulang-ulang dengan cara tafsir yang sama. Demikian halnya altar gereja, gua, candi menjadi tempat menyepi dengan rayuan pujian dan pengharapan di hari sucinya masing-masing. #bilik.renung.episode_130422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar