GENEALOGI BANGSA YANG BERAGAM
GENEALOGI BANGSA YANG BERAGAM.
Oleh Saifudin Zuhri.
Keberadaan ribuan pulau yang tersebar di Nusantara sudah cukup menjelaskan mengapa terdapat keragaman berbagai aspek kehidupan bangsa ini, sejak dari etnis, budaya, bahasa, ras, dan agama. Selat dan lautan yang menyekat antar pulau menghambat interaksi spesies makhluk hidup apapun antar pulau sehingga masing-masing berkembang biak sesuai dengan kondisi alam masing-masing. Itulah mengapa dalam spesies hewan saja terkadang bentuk fisik, seperti postur, corak warna kulit, suara, dll berbeda antara pulau yang satu dengan lainnya. Apalagi dalam spesies manusia yang jauh lebih kompleks dimensinya, maka keragaman akan lebih banyak ditemukan.
Penyematan tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” pada lambang burung Garuda Pancasila bukan sekedar semboyan dan jargon belaka namun begitulah genealogi entitas bangsa ini terbentuk. Upaya penyeragaman atas nama apapun bukan hanya akan menjadi masalah namun mengingkari akal sehat dan habitus spesies manusia itu sendiri sehingga kerap kali menemui kegagalan.
Rekayasa sosial (social engineering) dalam rangka penyeragaman pernah dilakukan rezim Orde Baru, seperti kewajiban asas tunggal, sentralisme, dominasi partai politik Golkar sebagai partai penguasa kala itu, dan bahkan hegemoni sosok Suharto sendiri atas lembaga-lembaga negara tak jua mampu melenyapkan keragaman walau durasi kekuasaannya cukup panjang 32 tahun. Resistensi anasir anak bangsa yang beragam ini secara alamiah dan naluriah muncul baik dalam bentuk implisit maupun eksplisit.
Demikian halnya institusi agama, walau memiliki sejumlah doktrin penyeragaman atas nama kesamaan keyakinan, upaya untuk mengikat komunitasnya dalam sebuah ikatan pemahaman yang sama, solidaritas, primordialisme (ukhuwwah Islamiyah dalam kasus umat Islam), dan lain sebagainya tak jua mampu sepenuhnya membangun kohesifitas tunggal yang diimajinasikan. Itulah mengapa NU Jawa Pantura tak selalu seirama dengan NU Kalimantan, Muhammadiyah Yogyakarta tak sepenuhnya seiya-sekata dengan Muhammadiyah Padang, Hindu Jawa tidak secara otomatis sama dengan Hindu Bali, Kristen Batak tak selalu seiring sejalan dengan Kristen Jawa, dan lain sebagainya. Di agama yang sejenis pun banyak keragaman dan perbedaan, apalagi antar jenis agama yang berbeda.
Adalah Geertz, seorang antropolog orientalis yang dengan cermat membangun hipotesis yang hingga hari ini tak terbantahkan, bahwa budaya merupakan variable independent dalam sistem hidup manusia Indonesia (khususnya Jawa karena penelitiannya dilakukan di Mojokerto Jawa Timur). Budayalah yang mendeterminasi dan mengkonstruksi aspek apapun dalam kehidupan manusia Jawa, karena itu atribut sosial seperti ekonomi, orientasi politik, bahkan agama tunduk di bawah variable budaya.
Menilik dari dua upaya rekayasa sosial yang pernah dilakukan sebagaimana tersebut di atas, yakni hegemoni rezim Orba dan instisui agama membuktikan bahwa keragaman adalah keniscayaan bangsa ini. Upaya mengingkari dan menyingkirkan keragaman bukan hanya bertentangan dengan logika, namun juga akan ditolak dengan sendirinya oleh hukum alamiah genealogi bangsa ini.
Genealogi bangsa beragam inilah yang meramu trilogi gerakan nasionalisme Indonesia, yakni gerakan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, dan Proklamasi Kemerdekaan 1945 yang berimajinasi mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap menyelipkan pita bertuliskan “Bhinneka Tuggal Ika”. Sebuah kesadaran bahwa di tengah upaya membangun kesatuan harus ada ruang perbedaan yang harus dihargai dan diberi tempat.
Jika akhir-akhir ini ada kelompok tertentu yang memperjuangkan mati-matian menyeragamkan anasir bangsa ini dalam sebuah pemahaman yang sama seperti sistem khilafah dan syari’ah menandakan gagal paham menganalisis anatomi tubuh dan geneologi bangsa ini dibentuk. Imajinasi dan obsesi itu dengan sendirinya akan tertolak secara alamiah dan logika.
Demikian halnya jika ada kelompok atau elit politik yang bermimpi menginginkan semua konstituen dalam pilihan yang sama dan searah dengan keinginan elit parpolnya itu pertanda bahwa kelompok ini tidak belajar dari masa lalu dan tidak kapok dengan pengalaman pahit penguasa Orba yang pernah berkuasa jauh lebih lama.
#bilik.renung.episode_110622#
0 comments:
Posting Komentar