CITAYAM FASHION WEEK; ANTARA KRITIK SOSIAL DAN ALGORITMA DIGITAL
CITAYAM FASHION WEEK; ANTARA KRITIK SOSIAL DAN ALGORITMA DIGITAL.
Oleh Saifudin Zuhri.
Masyarakat maya dan masyarakat nyata dihebohkan oleh fenomena Citayam fashion week di Ibu Kota Jakarta yang akhirnya menginspirasi munculnya fenomena yang sama di beberapa kota di Indonesia, seperti Yogyakarta, Solo, Madiun, Surabaya, Bandung, dll. Fenomena yang bermula dari kegiatan jalan-jalan dan nongkrong anak-anak remaja yang berasal dari daerah sekitar ibukota itu menarik diamati dari dua sisi, yakni dari perspektif sosiologis kritis dan tinjauan telematika.
Dari perspektif sosiologis akan dikritisi gejala masyarakat apakah ini? apa penyebabnya? pesan apa yang hendak disampaikan penggagas awal fenomena sosial itu? Sedangkan dari tinjauan telematika bisa diajukan pertanyaan; bagaimana hukum algoritma mesin digital itu bekerja? apa dampak media sosial dalam mengkonstruksi realitas sosial? bagaimana implikasinya terhadap masyarakat nyata?
Jika dilihat latar belakang fenomena Citayam fashion week adalah sebuah aksi komunitas yang berasal dari beberapa kampung di pinggiran ibu kota, seperti Citayam, Bojong Gede, Depok, dan sekitar Jakarta selatan . Secara sosiologis mereka sebenarnya adalah orang-orang yang termarginalisasi oleh gemerlap pembangunan kota kosmopolit Jakarta. Lihatlah profil Bonge dan Jeje yang menjadi ikon fenomena tersebut. Latar belakang Bonge yang putus sekolah, bahkan hanya sampai kelas 3 SD dan dari keluarga sederhana, begitu juga Jeje yang pernah mengalami kepahitan hidup bersama neneknya adalah sedikit gambaran bagaimana latar belakang sosial ekonomi mereka.
Aksi para remaja pinggiran ibu kota adalah residu dari pembangunan itu sendiri. Laju modernisasi merubah type solidaritar masyarakat yang menurut Emile Durkheim disebut dengan istilah solidaritas mekanik ke organik. Masyarakat mekanik adalah type masyarakat tradisional yang bentuk solidaritasnya diikat berdasar hubungan-hubungan personal dan komunal, sedangkan masyarakat organik adalah type masyarakat modern perkotaan yang bentuk solidaritasnya diikat berdasar hubungan impersonal dan individualistik. Dominasi kota terhadap desa dalam proses pembangunan memaksa desa untuk berkiblat ke budaya kota. Simbul kesuksesan adalah ketika anggota masyarakat mampu mengadopsi budaya modern, terutama pop culture, yang dikonstruksi oleh masyarakat kota dengan berbagai media yang dikuasainya.
Celakanya adalah ketika transformasi itu berjalan tidak utuh. Sumber daya masyarakat perdesaan yang terbatas, akses kekuasaan yang terbatas pula, dan literasi media yang rendah menjadikan masyarakat terpinggir ini hanya menjadi obyek. Konstruksi media massa dan media baru yang begitu massif memposisikan kaum marginal ini berada dalam dua dilemma; di satu sisi akses informasi yang begitu terbuka dan cepat membuat mereka menjadi obyek ajang pamer gemerlap gaya hidup orang kota. Gaya hidup kosmopolitanisme adalah parameter kesuksesan hidup. Namun di sisi lain keterbatasan ekonomi menyebabkan kesulitan dalam memiliki barang-barang yang menjadi simbul gaya hidup modern itu.
Ketidakberdayaan kaum marginal inilah yang mendorong mereka keluar dari tekanan; bagaimana di tengah keterbatasan ekonomi namun mampu bergaya hidup modern ala-ala kelas jetset yang menjadi trendsetter gaya hidup, seperti model berpakaian, kepemilikan barang-barang mewah, alat komunikasi, transportasi, dll. Di tengah keterbatasan itulah muncul ide-ide kreatif dengan memanfaatkan ruang publik yang awalnya terbuka dan bebas untuk berekspresi, sebagaimana aksi anak-anak remaja di zebra cross kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat.
Dalam peragaan busana dengan gaya alay-alay dan ala kadarnya itu mereka menggunakan baju, celana, ikat pinggang, sepatu, tas, topi, dan make-up yang kesemuanya hampir dipastikan berkualitas KW. Mereka tidak mungkin mampu membeli barang-barang branded yang berharga mahal itu. Di tengah kesederhanaan dan bisa beraksi di tengah ibukota dengan memanfaatkan secuil ruang public sudah merupakan kebahagiaan bagi mereka.
Aksi remaja yang menamakan diri komunitas SCBD (Sudirman, Citayam, Bojong Gede, dan Depok) adalah bentuk kritik sosial sekaligus perlawanan kreatif kaum urban yang terpinggirkan terhadap hegemoni masyarakat kosmopolit perkotaan. Di tengah ketidakberdayaan itu mereka memanfaatkan secuil ruang publik di perkotaan untuk sekedar unjuk eksistensi.
Sebenarnya apa yang mereka lakukan ditujukan untuk diri mereka sendiri, atau paling tidak untuk komunitas sekelasnya. Bisa berlenggak lenggok di zebra cross di tengah ibu kota dengan pakaian berharga murah sudah cukup membuat hari mereka riang gembira dan menjadi oleh-oleh cerita indah dari ibukota ketika malam hari mereka kembali berkumpul dengan sanak saudaranya di kampung halamannya.
Sebenarnya aksi anak-anak remaja SCBD itu biasa-biasa saja, namun menjadi fenomenal dan heboh karena penggunaan media baru platform digital di media sosial, seperti Tiktok, Istagram, YouTube, Facebook, Twitter, dll. Kreasi kreatif mereka itu diunggah ke bebagai platform media sosial sehingga viral dan tersebar berlipat-lipat dengan cepat. Setelah heboh di media sosial peristiwa kecil itu akhirnya terkemas dalam sebuah judul nyentrik Citayam fashion week.
Ketika melihat fenomena Citayam fashion week tanpa memasukkan faktor media sosial dalam analisisnya, maka sebenarnya anak-anak SCBD adalah subyek atas dirinya sendiri. Apa yang mereka lakukan adalah bentuk kritik sosial dan perlawanan terhadap struktur kapitalisme yang begitu jumawa, namun ketika mereka menggunakan platform digital sebagai media penyebaran informasi maka tak terhindarkan berlaku hukum-hukum algoritma dari mesin digital itu sendiri.
Apa yang mereka lakukan memang dengan cepat termasyhur dan popular, dan bahkan viralitas itu menjadi mesin hitung yang bisa dikapitalisasi untuk keuntungan mereka dalam waktu singkat. Indikator itu bisa dilihat dari munculnya beberapa tawaran indorse kepada Bunge dan Jeje yang datang dari berbagai brand terkenal. Mendadak dua anak remaja itu bak selebriti yang laris manis di berbagai media, baik media mainstream maupun media baru.
Yang lebih tragis adalah seiring naiknya populeritas Bonge dan Jeje secara instan yang diikuti oleh naiknya pendapatan ikon anak-anak SCBD itu justru tenggelam dalam gelimang harta yang diterimanya secara mendadak. Walhasil dalam waktu sekedap kesederhanaan yang sebelumnya menjadi identitasnya tiba-tiba berubah total dan justu menjadi indorse simbul-simbul kapitalisme itu sendiri.
Hukum algoritma digital itu mengandung dua konsekwensi sekaligus; di satu sisi menjadi media yang sangat berperan dalam mempopulerkan eksistensi mereka, termasuk keuntungan ekonomi dan pesan kritik sosialnya, namun di sisi lain mesin algoritma ini akan menggilas mereka dalam atmosfir kecepatan tinggi yang tidak memberi ruang bernafas. Untuk bisa tetap eksis dalam algoritma digital itu adalah kesanggupan untuk memproduksi konten terus menerus tanpa jeda dan berinovasi tiada henti. Jika tidak sanggup mengikuti itu hukum algoritma itu maka Bonge, Jeje, dan remaja-remaja lainnya tinggal tunggu waktu akan lenyap dalam sekejap dan akan digantikan fenomena baru lainnya.
Inilah Citayam fashion week, sebuah fenomena yang memberi banyak pesan tentang ketimpangan sosial, kritik pembangunan, pop culture, dan hukum algoritma digital yang semakin merasuk jauh ke urat nadi kehidupan masyarakat modern ini.
Bilik.Renung.Episode_260722
0 comments:
Posting Komentar