Selasa, 26 Juli 2022

KESEHATAN, PANGAN, DAN ENERGI

KESEHATAN, PANGAN, DAN ENERGI. Oleh Saifudin Zuhri. Setelah peradaban modern melesat begitu jauh dengan indikator kehadiran teknologi canggih yang belum pernah diraih ummat manusia sebelumnya, namun siapa sangka di tengah gemerlap kecanggihan teknologi yang begitu progresif dan revolusioner itu wajah dunia seakan ditampar sekeras-kerasnya oleh tiga isu primitif sekaligus fundamental yang selama ini tidak diperhitungkan dan diabaikan, yakni isu kesehatan, pangan, dan energi. Dari problem kesehatan, pangan, dan energi jarum sejarah peradaban manusia seakan diputar kembali ke titik awal. Selama ini teknologi dan juga ilmu pengetahuan dipuja sebagai indikator kemajuan peradaban sebuah bangsa. Dari teknologi itulah eksistensi sebuah negara dan resnonansi kekuasaannya ditentukan. Teknologi menjadi alat pembagi kasta bangsa-bangsa di dunia. Ada bangsa yang menduduki kasta produsen yang begitu hegemonik, kasta transformer yang mampu mengambil alih teknologi, kasta konsumen yang hanya menjadi pasar, dan ada pula negara yang belum tersentuh teknologi atau memang memilih menolaknya. Sampai akhirnya datang wabah global pandemic Covid 19 yang melanda dunia, krisis pangan dan energi, barulah kemudian dunia terhenyak dan tersadar bahwa kehidupan sedang tidak baik-baik saja. Negara-negara harus mulai memikirkan ulang rumusan geopolitik dan geostrateginya yang selama ini diandalkan. Sebagai contoh Rusia yang dikeroyok negara-negara Barat dengan berbagai sanksi karena invasi ke Ukraina dibalas dengan strategi yang mematikan bukan oleh senjata nuklir dan alutista canggih militer yang selama ini dikhawatirkan namun oleh strategi penghentian pasokan pangan dan energi ke negara-negara Eropa yang selama ini menjadi konsumennya. Akibatnya, perang belum usai namun negara-negara Eropa dan juga Amerika mulai terkena dampaknya, seperti inflasi tinggi dan bahkan gejolak politik dalam negeri masing-masing. Ketiga isu tersebut seakan menampar wajah peradaban manusia yang harus segera sadar bahwa roda kehidupan harus dikembalikan ke titik awal, yakni biologisme. Biologisme adalah determinisme genetik yang dikendalikan oleh komponen fisiologi. Jika diletakkan dalam situasi sosial maka struktur dan kultur sosial (negara) sesungguhnya dikonstruksi oleh kebutuhan dasar hidup dan lingkungan, seperti bahan pangan, air, dan energi. Untuk mengelaborasi biologisme ini terdapat sebuah teori klasik yang dibidani oleh seorang pemikir yang bernama Darwin dengan teorinya yang sangat popular, yakni evolusi. Teori evolusi Darwin dituangkan dalam karya monumentalnya yang berjudul “On the Origin of Species” pada tahun 1859 ini menyatakan bahwa organisme berevolusi dari generasi ke generasi melalui pewarisan ciri fisik atau perilaku. Menurut Darwin, landasannya adalah keberadaan variasi di ciri-ciri atau karakter tersebut. Teori Darwinisme itu menegaskan bahwa kehidupan manusia akan berkembang jika ada proses mutasi yang ditentukan oleh kebutuhan dasar hidup biologisnya. Pada masyarakat primitif yang masih sederhana kebutuhan dasar, yakni pangan, dicari dan diburu secara spontan, manual, dan kalaupun ada kerjasama kelompok hanyalah dalam sistem clan (kesukuan) yang jumlah anggotanya terbatas, seperti pada masyarakat berburu yang kemudian berkembang ke type masyarakat agraris yang menetap di sebuah lahan. Namun seiring bertambahnya jumlah manusia dan jangkauan jelajah yang semakin meluas maka pola-pola interaksi sosialnya menjadi kian kompleks dan heterogen. Di sinilah kemudian manusia membangun sistem kerjasama untuk menjamin produksi pangan tercukupi. Karena daya jelajah manusia semakin jauh kemudian memunculkan tuntutan sistem distribusi supaya pangan sampai di tangan konsumennya. Peningkatan produksi dan distribusi inilah yang pada akhirnya memunculkan kebutuhan baru yang tak terhindarkan yakni energi. Menguatnya kesehatan, pangan, dan energi menjadikan negara-negara yang memiliki deposit komoditas tersebut menjadi penentu dunia masa depan. Namun semua itu sangat ditentukan kapasitas negara pemilik dalam proses produksi dan menatakelola distribusinya. Pangan dan energi adalah senjata paling ampuh, mematikan, dan menentukan arah dunia ke depan. Negara-negara yang yang memiliki komoditas tersebut dan memiliki kapasitas dalam produksi dan sistem distribusi diprediksi akan menjadi pengendali dunia. Fenomena perang Rusia-Ukraina dan perubahan tata dunia baru ke arah multipolar adalah signal awal arah perubahan besar itu. Nah bagaimana dengan Indonesia? Tak dapat disangkal Indonesia adalah negara dengan potensi sumber daya alam yang begitu melimpah. Luasnya wilayah, lahan yang subur, beriklim tropis, dan posisi geografis di persilangan strategis dunia adalah modal besar menjadikan negara archipelago ini berpotensi memanfaatkan peluang dan momentum strategis ini. Namun sekali lagi semuanya semuanya ditentukan oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti kualitas demokrasi, tatakelola pemerintahan, kohesifitas penduduknya, literasi media, dan lain sebagainya. Jika bangsa ini terjebak dan terkuras energinya oleh konflik-konflik internal yang kurang bermutu, seperti politik identitas, kekolotan beragama, pragmatisme kekuasaan, fanatisme kesukuan, gosip-gosip domestik kerumahtanggaan, involusi pendidikan, kedangkalan berlogika, mabuk pop culture, dan lain-lain, maka momentum bagi bangsa ini untuk bangun dari tidur panjangnya akan berlalu begitu saja dan bangsa ini lagi-lagi menjadi penonton dan lapak pasar. #Bilik.Renung.Episode_220722#
Share:

0 comments:

Posting Komentar