DI SUATU PAGI DI SEBUAH PASAR
PAGI ITU DI SEBUAH PASAR.
Oleh Saifudin Zuhri.
Seperti biasanya di pagi buta sebelum azan shubuh berkumandang mbah Parinem bergegas menyiapkan sepeda onthel yang umurnya serenta dirinya lengkap dengan dua keranjang, atau di Jogja disebut kronjot, sebagai tempat kulakan barang dagangannya. Begitulah ritme hidup bakul pasar itu sejak 30 tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di kota pelajar ini. Tidak banyak yang berubah, hanya saja kerut kulit wajahnya tak bisa disembunyikan dan tulang punggungnya sedikit membungkuk yang menandakan semakin menua walau semangatnya tetap menyala-nyala.
Setibanya di pasar sambutan hangat sesama bakul pasar tradisional segera menyapanya sebagai pertanda bahwa roda kehidupan pasar tradisional yang berdiri di samping mall itu mulai diputar. Sambil sesekali berbincang-bincang antar pedagang yang sudah saling kenal itu mbah Parinem dengan cekatan kulakan barang-barang yang akan dijajakan di warung kecil samping rumahnya. Keterampilan tangannya memilih komoditas belanjaan di lapak kios langganannya menandakan ritme kegiatan itu biasa dilakukan bertahun-tahun yang memberinya mampu bertahan hidup.
Puluhan tahun ritme pekerjaan itu dilakukan, memang hasilnya tak seberapa dan dengan kasat mata bisa dilihat komoditas yang dijual pun itu-itu saja. Begitu juga tampilan dan cara melayani juga ajeg tidak berubah, masih seperti dulu kala. Namun dari warung itu pula mbah Parinem mampu menghidupi anggota keluarganya. Bisa mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari dan sesekali memberi sangu beberapa rupiah cucunya ketika berangkat ke sekolah sudah merupakan kebahagiaan yang pandai disyukurinya.
Naiknya barang-barang yang akhir-akhir ini sering terjadi dan sulit diprediksi tak menjadikan dirinya galau apalagi berputus asa. Selalu saja ada cara bagaimana menyiasatinya supaya tetap bisa bertegur sapa dengan sesama bakul di pasar dan melayani pelanggan warungnya. Sesekali jika masih memungkinkan naiknya harga komoditas tak secara otomatis mbah Parinem menaikkan harga ke pelanggannya. Mengurangi keuntungan, bahkan dijual sama dengan harga kulakannya, atau memperkecil ukuran sebuah barang adalah salah satu trik supaya pelanggan tidak kena imbas kenaikan.
Begitulah wajah pedagang tradisional di berbagai pelosok di Indonesia. Ada sebuah filosofi besar yang melatari sikap hidup dan budaya kerja para pedagang itu yang sekaligus membedakan dengan teori-teori pasar yang digagas oleh Adam Smith, Max Weber, dan para pemikir pasar kapitalis lainnya. Bagi para pedagang tradisional (dan juga pelaku UMKM) bahwa intangible asset, seperti komunikasi langsung, hubungan baik dengan sesama, kehangatan, persaudaraan, dan lain-lain adalah nilai asset tertinggi dalam aktivitas perdagangannya. Ada istilah “tuno sathak, bathi sanak”, yang artinya kurang lebih demikian: “rugi secara finansial tidak apa-apa asalkan untung untuk persaudaraan”.
Ideologi pasar kaum kapitalis haqqul yakin bahwa di dalam pasar terdapat hukum-hukum abadi yang seakan-akan tak tersentuh oleh siapapan (the invisible hand). Dalam keyakinan para penggagas pasar bebas itu optimis bahwa pasar adalah tempat pertukaran kepentingan penjual dan pembeli secara damai dan beradab. Dalam proses proses transaksi secara otomatik akan ada hukum keseimbangan (equilibrium) yang berjalan secara alamiah dan pasar memberi kesempatan yang sama kepada semua orang sehingga tercipta persaingan terbuka dan fair. Begitulah para penggagas teori pasar bebas itu mengkonstruksi citra pasar kapitalis yang seakan-akan sepenuhnya positif dan produktif sehingga di dalam pasar bebas berlaku hukum Laissez-faire yang membiarkan semuanya dalam persaingan bebas.
Konsistensi dan istiqomah sikap hidup mbah Parinem tidak pudar. Keteguhan hatinya membuktikan mampu memberinya daya hidup yang sejauh ini mampu bertahan bahkan tetap memberi manfaat bagi sesama. Aktivitas rutin yang ditekuni sejak ufuk pagi yang dijalaninya tahun-tahunan bukan sekedar memburu keuntungan profit sebagaimana diintrodusir dan disublimasi secara represif dari ideologi pasar bebas yang dijajakan kaum kapitalis itu. Ada hakikat nilai yang jauh lebih berharga dari sekedar keuntungan materi, yaitu makna sebagai manusia yang mandiri, subyek otonom yang selalu memberi manfaat bagi sesama. Barang dagangan dan uang hanyalah instrument untuk mengejawantahkan nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, kemanusiaan, kehangatan, dll.
Falsafah hidup para bakul tradisional itulah yang menopang fundamen ekonomi bangsa ini, walau mereka termarginalisasi dalam berbagai kebijakan ekonomi nasional maupun ekspansi kapitalisme global. Ketika ekonomi bangsa ini berada dalam ancaman inflasi dan resesi global, merekalah yang dengan tulus tetap bekerja dan memberi manfaat bagi sesama. Bahkan ketidakpastian ekonomi dunia karena dampak pandemic Covid 19 dan efek peran Rusia-Ukraina yang berimbas ke berbagai belahan dunia tak jua menderitakan mereka.
dan seperti biasanya di ufuk pagi itu mbah Parinem mengayuh kembali pedal sepeda rentanya sebagaimana hari-hari yang lalu, sanak saudara sepasar sudah menunggunya untuk kembali bercengkarama melanjutkan kehidupannya dalam ketentraman dan kehangatan.
#Bliki.Renung.Episode_190722#
0 comments:
Posting Komentar