KETIDAKPASTIAN DUNIA DAN KEUNIKAN BANGSA INI
KETIDAKPASTIAN DUNIA DAN KEUNIKAN BANGSA INI.
Oleh Saifudin Zuhri.
Dampak pandemic Covid 19 dan perang Rusia – Ukraina membuat semua negara di dunia menghadapi ketidakpastian dan dilanda kepanikan. Dampak pandemic telah meluluhlantakkan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara di dunia, ada yang mengalami inflasi yang tak terkendali, resesi, hingga kebangkrutan. Demikian halnya perang Rusia – Ukraina semakin memperparah keadaan. Serbuan legiun Rusia ke negara yang dijuluki keranjang roti dunia itu menyebabkan krisis pangan dan energi terutama di negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO.
Amerika Serikat sebagai sekutu utama NATO juga mengalami guncangan hebat hingga dipertanyakan eksistensinya sebagai pemegang epicentrum globalisasi yang selama ini dihegemoni. Ekspansi Rusia ke Ukraina benar-benar merubah peta kekuatan dunia dari monopolar yang didominasi USA menjadi multipolar dengan peta kekuatan yang beragam, seperti tampilnya Rusia, China, dan bukan tidak mungkin Indonesia.
Di tengah situasi babak belur berbagai negara itu ada angin segar yang dihembuskan Bank Dunia bahwa Indonesia adalah negara yang diprediksi memiliki daya tahan ekonomi dan terhindar dari resesi global. Apakah prediksi Bank Dunia itu hanya angin syurga untuk menghibur atau memang faktual? Apa penyebabnya? Jurus apa yang dimiliki bangsa ini hingga diprediksi menjadi bangsa paling mampu menghadapi krisi global?
Indonesia adalah negara dengan segenap keunikan yang tidak dimiliki negara lain. Latar belakang sejarah sebagai negara koloni, imajinasi bernegara, dan kondisi geopolitik berkonstribusi terhadap keunikan itu. Memang bangsa ini menegara tidak terlepas dari antithesis terhadap penjajahan namun penjajah pula yang memperkenalkan bangsa ini terhadap sistem bernegara modern, seperti trias-politica, negara konstitusional, negara hukum, sistem demokrasi, dan lain-lain.
Meskipun demikian tidak serta merta bangsa ini menelan mentah-mentah semua paradigma tentang sistem negara modern yang diintrodusir oleh kolonialisme itu. Kharakter dan identitas asli bangsa ini masih tetap ada dan bahkan mewarnai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komunalisme (gotong royong) yang disublimasi dari budaya masyarakat agraris-maritim dan kuatnya pengaruh agama dalam sistem kepercayaan yang mengalir hingga ke institusi sosial, merupakan perpaduan dari tiga aspek yang disebut triprakara, yaitu tiga unsur yang saling beririsan antara asas kenegaraan, adat istiadat, dan keagamaan.
Asas triprakara itulah realitas imajiner yang dibangun oleh bangsa ini membuat Indonesia memang berbeda. Indonesia tidak bisa dikatakan sepenuhnya negara modern, tapi juga tidak sepenuhnya tradisional, tidak negara sekuker tapi juga tidak sepenuhnya negara agama. Indonesia itu bukan ini dan bukan itu, sekaligus juga bagian dari ini dan itu. Tampilan wajah keindonesiaan semacam ini bisa bermakna negatif namun sekaligus positif.
Negatif karena ketidakjelasan itu mengakibatkan tumpang tindih antara entitas nilai yang sebenarnya genealoginya berbeda. Asas kenegaraan adalah instrumen rasional dalam ketatanegaraan mengatur sistem bernegara secara sistemik dan konstitusional. Adat istiadat adalah sebuah sistem budaya yang membentuk tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi yang muncul sebagai respon terhadap alam dan kehidupannya. Sedangkan agama adalah sistem kepercayaan terhadap kekuatan adikodrati yang akhinya membentuk institusi agama itu sendiri. Dalam penyelenggaraan negara ketiga aspek itu saling tumpang tindih yang mengakibatkan ketidakjelasan yang acapkali saling bertabrakan.
Positif karena perpaduan ketiga unsur itu adalah mozaik yang saling mewarnai dan mengisi. Itu pula yang ketika peradaban modern merepresi dengan skema tunggal positivistik dan establishmen sistem negara modern, maka Indonesia memiliki alternatif lain. Ketika dunia dilanda resesi global banyak negara mengandalkan sistem tunggal sistem ketatanegaraan modern. Sementara Indonesia memiliki jurus-jurus unik yang diintrodusir dari sistem budaya masyarakatnya sendiri.
Ketika dunia panik menghadapi ancaman resesi global bahkan kebangkrutan, bangsa ini tenang-tenang saja karena tidak semuanya diserahkan pada sektor makro. Usaha-usaha mikro kecil menengah bagaikan rimpang yang otonom mampu membuat ruas-ruasnya bertumbuh kembang, atau minimal bertahan hidup. Ancaman terorisme yang menghantui banyak negara ditawar ulang oleh bangsa ini dengan sistem beragama inklusif dan berkebudayaan. Memang ada benih-benih radikalisme di sebagian kelompok beragama namun juga diimbangi oleh kehadiran agen-agen kritis yang justru muncul dari komunitas agama itu sendiri. Sistem demokrasi yang dipuja sebagai satu-satunya sistem terbaik dalam pengelolaan kekuasaan dinegosiasi oleh musyawarah mufakat.
Keunikan bangsa ini menjadi potensi besar menghadapi resesi global yang menghantui semua negara di dunia sekarang ini. Jika keunikan ini dikombinasi dengan menggeser dari konsumsi ke produksi dalam kebijakan pembangunannya, maka bisa jadi Indonesia bagaikan singa yang bangun dari tidur panjangnya.
#Bilik.Renung.Episode_130722#
0 comments:
Posting Komentar