TIGA JALAN MUNDUR DI DUNIA ISLAM
TIGA JALAN MUNDUR DI DUNIA ISLAM.
Oleh Saifudin Zuhri.
Dalam rekam jejak sejarah Islam pernah menjadi ikon dalam peradaban dunia, setidaknya di kawasan jazirah Arab, Persia, Mesir, hingga Spanyol. Kemampuan ekspansi peradaban Islam itu karena ada value yang ditawarkan Islam yang memang mempesona dan secara nyata mampu memberi solusi atas persoalan yang muncul kala itu. Karena itu di Al Qur’an disebut Islam datang sebagai kabar gembira (basyiron) dan pemberi peringatan (nadziron).
Pesona apa yang ditawarkan Islam kala itu hingga begitu mudah mudah menyebar di berbagai belahan dunia lain bahkan hingga ke Indonesia? Mengapa realitas peradaban Islam sekarang ini justru berbanding terbalik dengan sejarah gemilang masa lalu itu? Itulah dua pertanyaan yang coba diterka dalam tulisan pendek ini.
Islam sebagai entitas sistem keyakinan tidak muncul begitu saja. Kehadiran Islam sebagai fakta sosial merupakan bagian dari dinamika sejarah agama-agama smetik yaitu, Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dalam genealogi agama-agama smetik tersebut sebenarnya berpangkal dari sumber yang sama (kalimatun sawa), yakni Ibrahim, karena itu bisa juga disebut sebagai “Abrahamic religion”. Namun dalam perkembangannya masing-masing pemeluk ketiga agama tersebut justru terlibat saling konflik yang akhirnya mengkontruksi prototype postur ajarannya masing-masing. Bahkan konflik menjadi bagian dari teologi agama tersebut dan terwariskan hingga hari ini.
Dalam kasus sejarah Islam awal mula kemunculannya menjadi antithesis terhadap realitas sosial masyarakat Makkah kala itu. Sistem paganisme yang irasional, feodalisme kesukuan, struktur sosial yang menindas, dan budaya yang dehumanistik yang popular dengan jaman jahiliyah. Islam hadir sebagai tawaran alternatif terhadap sistem dan realitas sosial kala itu.
Setidaknya terdapat tiga hal prinsip yang ditawarkan Islam sehingga mampu memikat khalayak kala itu. Pertama, TEOLOGI RASIONAL. Teologi adalah konseptualisasi keyakinan terhadap kekuatan adikodrati atau dalam agama di sebut Tuhan. Dalam teologi Islam Tuhan dikonseptualisasi sebagai dzat abstrak yang tak tersentuh dan di atas segala realitas (laesa kamistlihi syaiun, artinya tidak bisa dipersamakan dengan apapun). Karena itu dalam Islam Tuhan tidak dipersonifikasi dalam bentuk apapun, seperti patung, gambar, sosok atau figure tertentu, komunitas, dan benda apapun.
Untuk mengenal Tuhan hanya diberi tengara dalam bentuk pelabelan sifat-sifat Tuhan dengan nama-nama kebaikan yang berjumlah 99 itu (asma’ul husna), namun nama-nama sifat ketuhanan itu bukanlah Tuhan itu sendiri. Dengan demikian Tuhan adalah kesadaran terus-menerus yang ditentukan oleh konsentrasi fikiran akan kehadiran Tuhan dan kesadaran itu akhirnya mengendalikan perbuatan sebagai pembuktian ketundukan kepada Tuhan.
Dzat Tuhan yang begitu abstrak itu menuntut kesadaran individu akan kehadiran Tuhan terus menerus dalam hati, fikiran, perasaan, dan perbuatan. Dengan abstraksi ini Tuhan tidak bisa direduksi dalam bentuk apapun dan diklaim pihak manapun. Bahkan kesadaran akan Tuhan itu sendiri walaupun sudah menjadi sistem kepercayaan, agama, dan ilmu pengetahuan tidak boleh membeku menjadi kebenaran yang dianggap mutlak. Kesadaran kehadiran Tuhan adalah proses terus menerus tanpa henti.
Rasionalitas teologi ini menjadi antithesis terhadap sistim keyakinan sebelumnya yang mempersonifikasi Tuhan dalam benda-benda simbolik tertentu (berhala), figure yang dianggap suci (kultus individu), maupun direpresentasikan dalam kelompok tertentu yang diklaim mendapat previlage sebagai umat pilihan Tuhan.
Jika pada saat ini ada kelompok yang mengklaim sebagai penafsir tunggal kebenaran Tuhan maka sebenarnya kelompok itu mempertuhankan pemahamannya sendiri dan bukan Tuhan itu sendiri. Apalagi dengan klaim itu kemudian mengkonstruksi kekuasaan dengan mengkoersi kelompok lain yang tidak sepaham maka sejatinya kontradiktif dengan konsep dasar teologi Islam itu sendiri. Inilah faktor pertama kemunduran peradaban Islam.
Kedua, MENEMBUS BATAS. Pada masa awal kemunculan Islam masyarakat Makkah berada dalam rezim struktur sosial dalam berbagai entitasnya, seperti fanatisme kesukuan ('ashobiyah), garis keturunan, sistem patriarkhi, rasisme, kelas ekonomi, dan lain sebagainya. Kuatnya rezim itu melanggengkan status qua para elit yang menikmati kenyamanan struktur itu sehingga ketidakadilan sosial, penindasan, dan dehumanistik mendominasi dalam kehidupan masyarakat yang popular disebut dengan jaman jahiliyah itu.
Di tengah ketidakadilan dan penindasan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan itulah Muhammad hadir dengan attitude dan cara pandang yang menembus batas. Walaupun Muhammad berasal dari klan yang termasuk terhormat dalam hierarkhi kasta kesukuan di Makkah kala itu, yakni Bani Hasyim namun Muhammad mampu menjadi agency dan mendekonstruktsi strukturnya sendiri. Dia keluar dari zona nyaman dan memperkenalkan nilai-nilai universal yang menembus batas. Satu-satunya klasifikasi sosial adalah kualitas kepribadian dan ketundukan kepada Tuhan yang sudah dipaparkan di atas.
Tentu saja nilai-nilai yang diperkenalkan Muhammad ini mendapat simpati publik terutama pihak yang menerima ketidakadilan dan penidasan dari sistem sosial yang begitu segregatif itu. Namun di sisi lain gerakan Muhammad ini mendapat resistensi keras dari pihak yang selama ini menikmati kemapanan struktur sosial itu. Itulah mengapa pada periode awal gerakan Islam mendapat pertentangan keras di Makkah yang masih dikuasai oleh kelompok elit tribalisme.
Jika pada saat ini muncul fenomena di sebagian ummat Islam Indonesia membangun dinding pembatas dengan atribute sosial tertentu yang distrukturkan, seperti membangun kasta berdasar garis keturunan nabi Muhamammad dengan istilah habib, arabisme, melanggengkan diskriminasi gender, rasisme, dan bahkan merasa suprematif dan jumawa di tengah interaksi sosial yang habitatnya plural, maka sesungguhnya sebuah involusi nilai-nilai yang diperjuangkan Muhammad sejak awal dakwahnya. Inilah faktor kedua kemunduran peradaban Islam.
Ketiga, MENGKRITISI KEKUASAAN. Segala bentuk pemberhalaan dilarang keras dalam Islam, bukan hanya pemberhalaan benda-benda namun juga sistem kesadaran pemeluknya sendiri dan juga sistem kekuasaan yang dibangun untuk menjaga institusi agama. Kekuasaan cenderung mereduksi kesadaran nilai universal dan abstraksi teologi menjadi ideologi yang dipuja-puja.
Pada masa awal kehadiran Islam berposisi di luar kekuasaan dan menjadi kekuatan kritis untuk mengontrol kebijakan-kebijakannya supaya sesuai dengan nilai-nilai rasionalitas, kemanusiaan, dan persamaan. Dengan berposisi di luar kekuasaan Islam menjadi lebih kritis dan menjadi gerakan emansipatoris kaum tertindas. Namun demikian Islam juga harus kritis terhadap dirinya sendiri. Posisi oposisi ini bukan dalam kerangka politis untuk menunggu kesempatan berkuasa sebagaimana dalam mekanisme politik sekuler modern. Konsistensi sebagai gerakan kritis terhadap kekuasaan sebagai upaya menjaga integritas moral Islam untuk selalu mentransendenkan apa saja kepada Tuhan, termasuk kekuasaan.
Dalam perkembangannya Islam menjadi imperium kekuasaan dan mulai saat itulah Islam kehilangan daya panggil terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan yang dulu diusungnya. Itulah mengapa hingga wafatnya Rasulullah Muhammad tidak pernah menegaskan bagaimana sistem kekuasaan Islam (Negara) dirumuskan. Bahwa kemudian sepeninggal Rasulullah berdiri sistem kekuasaan Khulafaurrasyidin, Khilafah Ustmaniyyah, Khilafah Abbasiyah, hingga Khilafah Turki Ustmani, namun di sepanjang sejarahnya, sistem kekuasaan yang diimajinasikan sebagai prototype model kekuasaan ideal itu, dipenuhi insiden berdarah-darah dan berbeda sistemnya sehingga tidak relevan dengan perkembangan peradaban global sekarang ini.
Jika pada hari ini terdapat eksponen ummat Islam yang begitu bernafsu mendirikan kekuasaan berdasar nostalgia masa lalu sistem kekuasaan khilafah, baik yang bergerak di dalam struktur kekuasaan negara maupun di luar struktur, maka pada dasarnya obsesi dan ambisi itu secara moral salah arah dengan misi gerakan Islam itu sendiri. Inilah faktor ketiga mengapa peradaban Islam mengalami keterbelakangan dalam peradaban modern sekarang ini.
Islam adalah agama proses dan kata kerja tanpa henti, bahkan hingga nafas terakhir dihembuskan diharapkan adalah kesadaran dan ingatan akan kehadiran Tuhan yang tak terbatas. Itulah sangkan paraning dumadi, innalillah wainna ilaihi roji’un.
#Bilik.Renung.Episode_070722#
0 comments:
Posting Komentar