Senin, 09 Mei 2022

KARTINI YANG MENEMBUS BATAS KEGELAPAN

KARTINI YANG MENEMBUS BATAS KEGELAPAN (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri “Habis gelap terbitlah terang”, hasil goresan tinta emas Kartini itu menggambarkan kemampuan menembus batas struktur patriarkhi yang begitu kuat kala itu. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang memposisikan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam struktur keluarga, figur bapak memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda. Walaupun konteks yang dihadapi Kartini adalah struktur patriarkhis namun apa yang dilakukannya bisa menginspirasi gerakan di berbagai sistem sosial lainnya, seperti politik, pendidikan, budaya, bahkan agama. Hakikat gerakan Kartini adalah bagaimana menembus batas struktur yang menindas nilai-nilai kemanusiaan dan membelenggu kebebasan manusia itu sendiri. Pembatasan sejarah Kartini hanya pada persoalan gender akan mereduksi esensi dari pemikiran besar yang digagas oleh Kartini. Manusia memang makhluk ambigu, di satu sisi kebutuhan untuk bertahan dan berkembang mendorong manusia untuk membuat struktur sosial, namun pada gilirannya struktur itu pula yang membelenggu manusia untuk berkembang. Ketika struktur sosial tersosialisasi dalam jangka panjang dan akhirnya mapan maka akan menjadi sangkar besi yang menghegemoni struktur kesadaran individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut. Ada beragam struktur yang diciptakan manusia untuk himpunan sosialnya seperti sistem politik, ekonomi, sosial budaya, hingga struktur kesadaran individu seperti cara pandang, keyakinan (agama), ideologi, dan lain-lain. Kesemua struktur itu akan dipertahankan terutama oleh kelompok dominan untuk menjamin kemapanannya. Jika tidak ada upaya pengkritisan (biasanya lama-lama menjelma jadi gerakan pemberontakan) maka struktur itu akan menjadi sangkar besi yang membelenggu kebebasan manusia sendiri. Manusia selain berdimensi sebagai makhluk sosial sehingga terikat oleh sistem struktur yang ada adalah juga berdimensi makhluk individu sehingga berpotensi memiliki otonomi untuk mengembangkan diri. Dari individu yang otonom inilah yang akhirnya menjadi inisiator (agency) perubahan masyarakatnya. Struktur patriakhi yang kala itu memaksa Kartini menaati apa yang menjadi perintah bapaknya akhirnya didobrak walau dengan goresan-goresan tinta di secarik kertas yang dilayangkan sahabatnya di negeri kincir angin sana. Walau pada akhirnya Kartini tetap saja menjalani hidup nyatanya dalam struktur patriarkhi namun secara pemikiran Kartini mampu menembus batas kegelapan strukturnya sendiri. Pada konteks kekinian ruh Kartini ini mestinya menginspirasi kita semua untuk punya keberanian mengkritisi kembali struktur di sekitar hidup kita bahkan dalam struktur kesadaran kita; adakah pemikiran, sistem sosial, pranata, dan apapun yang kita yakini dan taati selama ini membuat kita tampil sebagai manusia atau justru membelenggu kita dalam bungkus-bungkus yang kita buat sendiri? Untuk konteks puasa Ramadhan, ada pertanyaan kritis yang dianalogikan dari semangat Kartini di atas, yaitu mampukah kita menembus struktur norma puasa itu sendiri, seperti menahan makan, minum, seks, dan sejumlah asesories bulan Ramadhan seperti ibadah taraweh, tadarus Al-qur’an, buka puasa bersama, mudik lebaran, dll. Jika para shoimin merasa sudah selesai dengan itu semua maka sejatinya masih terperangkap dalam struktur yang membelenggunya. Makna sejati puasa adalah ketika mampu menembus batas dirinya sendiri dan norma-norma puasa itu sendiri untuk kemudian selebihnya diserahkan pada Tuhan. Itulah keikhlasan. “Selamat HARI KARTINI, habis gelap terbitlah terang” #bilik.renung.episode_210422#
Share:

FIRMAN TUHAN YANG TAK PERNAH BERHENTI

FIRMAN TUHAN YANG TAK PERNAH BERHENTI (tulisan ini dibuat untuk memperingati Nuzulul Qur’an) (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Firman Tuhan termediasi dalam dua bentuk, yakni ayat-ayat qouliyah dan ayat-ayat kauniyah. Yang pertama adalah firman Tuhan yang termaktub dalam kitab suci dan yang kedua berupa hukum-hukum Allah yang menempel pada realita semesta alam dengan segala kehidupan di dalamnya. Instrumen untuk memahami makna dari ayat-ayat qouliyah adalah keyakinan dalam hati bahwa ayat-ayat itu adalah kebenaran dan petunjuk dari Tuhan sesembahannya, selain itu cara untuk mengetahui pengetahuan dari setiap kalimat, kata, bahkan huruf dalam kitab suci itu adalah dengan ilmu tafsir. Sedangkan pada ayat-ayat kauniyah menuntut proses manusiawi dengan menggunakan potensi akal yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepada makhluk (sekaligus kholifah) yang bernama manusia. Manusia yang hidup di planet bumi ini digelarkan realita alam semesta yang dapat dilihat oleh mata dan dirasakan dalam kehidupan nyata, baik yang berdimensi mikro-kosmos (jagat cilik, yakni tubuh manusia itu sendiri) atau berdimensi makro-kosmos (jagat gede, yakni alam raya). Mikro-kosmos dan makro-kosmos yang berjalan begitu tertib merupakan manifestasi dari kehadiran Tuhan di dunia. Untuk menangkap kehadiran Tuhan dalam konteks aya-ayat kauniyah ini adalah dengan mengoptimalkan penggunaan akal manusia, yang akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan. Kedua bentuk firman Tuhan ini mestinya bersubstansi sama karena berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan itu sendiri. Namun pada kenyataannya ada kesan bahwa hubungan antar keduanya bersifat hierarkhis bahkan konfliktual. Kesan hierarkhis ini tercermin dengan menempatkan ayat-ayat qouliyah lebih tinggi daripada ayat-ayat kauniyah sehingga firman-firman Tuhan dalam kitab suci harus lebih diutamakan daripada temuan-temuan akan fikiran manusia sebagai hasil penelitian terhadap hukum-hukum alam. Ada juga yang memperhadapkan antara qouliyah dengan kauniyah secara vis a vis, artinya kebenaran yang diyakini dari kitab suci (walaupun sebenarnya adalah tafsir) merupakan kebenaran mutlak, sementara kebenaran yang diproses dari akal manusia dianggap tidak benar dan ditolak. Ilmu pengetahuan yang diproduk akal manusia dituduh sebagai kebenaran sementara, duniawi, dan tidak hakiki. Ada kecenderungan ummat Islam lebih konsen pada ayat-ayat qouliyah. Sementara ayat-ayat kauniyah disepelekan dan diabaikan. Kecenderungan ini terlihat dari indikator betapa bersemangatnya umat Islam dalam membaca (tadarus/tilawah) ayat-ayat suci Al Qur’an bahkan banyak tahfidz qur’an didirikan, namun di sisi lain sangat malas bekerja keras memeras otak membangun ilmu pengetahuan yang bersumber dari penelitian terhadap hukum-hukum alam semesta dan kejadian-kejadian di dalamnya dimana Kehadiran Tuhan terjelma dalam ciptaan-Nya. Ketidakseimbangan telaah terhadap ayat-ayat qouliyah dan kauniyah inilah barangkali yang menyebabkan keterbelakangan ummat ini dalam peradaban modern. #bilik.renung.episode_200422#
Share:

INSECURE DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

INSECURE DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Kehebohan dunia pendidikan kembali mengemuka ketika salah seorang guru besar dari universitas ternama di Derah Istimewa Yogyakarta UGM membuat kegaduhan di media sosial terkait komentarnya terhadap kasus pengeroyokan Ade Armando beberapa waktu yang lalu. Walau sang profesor itu berdalih komentarnya sebagai guyonan (bercanda) namun kuat dugaan yang bersangkutan terindikasi terpapar virus paham radikalisme. Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hanya di UGM, jauh sebelumnya di beberapa kampus favorit di Indonesia, seperti IPB, ITB, dan UI juga terindikasi terpapar virus radikalisme bahkan masuk dalam struktur kampus tersebut. Di IPB penangkapan dosen Institut Pertanian Bogor berinisial AB yang diduga menyimpan puluhan bom molotov, yang siap diledakkan saat unjukrasa Aksi Mujahid 212 di Jakarta pada tahun 2019, keresahan alumni ITB hingga berkirim surat ke rektorat karena maraknya gerakan radikalisme di kampus ITB, dan struktur kampus UI yang menjadi ajang rebutan pengaruh antara kelompok nasionalis dengan paham radikal juga acap kali terjadi. Yang telah disebutkan itu adalah contoh dari daftar panjang radikalisme yang sudah masuk ke dunia Pendidikan tinggi di Indonesia. Hasil survei Setara Institut tahun 2019 menemukan bukti bahwa setidaknya ada 10 perguruan tinggi di Indonesia yang terindikasi tertpapar paham radikalisme. Membaca data dan kasus di atas memunculkan sejumlah pertanyaan sebagai berikut: mengapa dunia pendidikan tinggi yang asumsinya menjadi lembaga pencerahan dan pencerdasan justru menjadi tempat subur berkembangnya virus radikalisme? Masyarakat kampus yang dibangun atas tradisi ilmiah sehingga semestinya mengedepankan cara berpikir rasional, logik, dan membebaskan dari belenggu dogmatic tapi justru dengan mudah menerima paham radikal yang notabene irasional, emosional, dan anti peradaban? Apakah ini peristiwa ideologis dan politis semata atau ada persoalan yang jauh lebih mendasar dalam membangun paradigma keilmuan? Peradaban modern dilahirkan dari proses tesis antithesis antara cara berpikir irasional yang kala itu diintrodusir dari mistisisme, feodalisme dan juga dogma agama abad pertengahan didekonstruksi dengan tesa baru berupa cara berpikir rasional. Semakin menguatnya cara berpikir rasional ini kemudian melahirkan Abad Pencerahan (Renaissance) dimana akal sehat mendapat posisi terhormat dari dimensi manusia sehingga melahirkan ilmu pengetahuan modern hingga hari ini. Lembaga pendidikan adalah kristalisasi cara berpikir ilmiah ini. Perguruan tinggi menjadi habitus dalam pengembangan ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban umat manusia. Bahwa kemudian tiba-tiba di perguruan tinggi menjadi habitus untuk persemaian paham radikalisme, sungguh menjadi fenomena kontradiktif dengan hakikat dasar dari masyarakat ilmiah ini. Itu semua tidak terjadi dengan sendirinya. Ada proses panjang yang dimulai sejak dari jenjang pendidikan di level PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA. Lihatlah bagaimana sejak dini akal sehat ini ditundukkan oleh dogma keyakinan dalam melihat realita kehidupan dan alam semesta ini. Sangat popular di salah satu syair lagu TK bahwa pelangi itu lebih banyak dijelaskan sebagai ciptaan tuhan daripada dikenalkan proses hukum-hukum alamnya. Demikian halnya pada jenjang Pendidikan berikutnya, pembelajaran tentang logika, matematika, fisika, biologi dan sejumlah jenis pengetahuan ilmiah lainnya akan terkalahkan oleh adagium yang bernada spekulatif dan mistik, seperti keyakinan tentang takdir, nasib, keberuntungan, bejo, dan lain-lain. Itulah mengapa ilmu pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi tak secara otomatis terkorelasi dengan realitas masyarakat. Ilmu alam dan turunannya akan kalah dengan mitos, ilmu ekonomi akan kalah dengan "rejeki ada yang mengatur", ilmu rekayasa cuaca kalah pamor dengan mbak Rara sang pawang hujan, ilmu politik akan kalah populer dengan demo jalanan nan barbar. #bilik.renung.episode_190422#
Share:

BALADA NEGERI DUM-DUMAN

BALADA NEGERI DUM-DUMAN Edisi Ramadhan Oleh Saifudin Zuhri Genealogi bangsa Indonesia memang unik, bahkan ketika merdeka menjadi nation-state modern sekalipun jenis kebangsaan kita adalah “bangsa bentukan”. Bangsa bentukan adalah bangsa yang kelahirannya melalui proses, dinamis, dan keberadaannya tergantung dengan eksistensi negara itu sendiri. Sebagai bangsa bentukan maka imajinasi menjadi sumber inspirasi dalam mengkontruksi kesadaran apa yang disebut bangsa, itulah yang oleh Benedict Anderson diistilahkan dengan “Imagined Communities”. Berbeda dengan jenis “bangsa alami” yang menjadi bangsa lebih karena factor genetik yang tidak membutuhkan proses penyadaran sebagai sebuah bangsa. Contoh dari bangsa alami adalah bangsa Arab, Yahudi, China, dan India. Negara bangsa bentukan idealnya diselenggarakan secara impersonal sehingga ideologi negara, konstitusi, hukum, birokrasi, dan sistem ketatanegaraan lebih dominan daripada kehadiran personal. Namun pada praktiknya di negeri ini tampilnya sosok personal lebih menonjol daripada sistem itu sendiri. Personalisasi kehadiran negara ini pada akhirnya memposisikan sistem ketatanegaraan termasuk pelayanan publiknya tersubordinasi oleh performance individu pemegang kekuasaan. Kehadiran negara dalam sosok personal dalam berbagai tingkatannya semakin mengentalkan pola hubungan patron-klien antara publik dengan penyelenggara kekuasaan. Hubungan patron-klien merupakan hubungan pertukaran antara dua orang yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdaya yang dimilikinya untuk menyediakan perlindungan atau keuntungan bagi seseorang (masyarakat) yang lebih subordinatif. Pola hubungan ini walaupun bersifat vertikal atas-bawah namun kedua belah pihak bersimbiose mutualisme. Dalam konteks politik pemegang kekuasaan sebagai patron miliki sumber daya kekuasaan untuk dialokasikan untuk menjamin stabilitas kekuasaannya, sementara bagi klien yakni publik yang dilayani membutuhkan perlindungan dan bantuan dari patron. Legitimasi dan citra pemerintah sebagai patron sangat ditentukan oleh intensitas dalam memberi atau membantu kepada warga negara, walau dalam bentuk simbolik sekalipun. Pola hubungan patron-klien inilah yang mendominasi dalam penyelenggaraan kekuasaan di negeri ini. Fenomena pola relasi patron-klien ini merupakan distorsi dan anomali di negara republik yang sudah sepakat menjadikan demokrasi sebagai sistem pengelolaan kekuasaan dan konstitusi sebagai kontruksi ketatanegaraan. Menjelang libur lebaran 2022 pemerintah akan memberi paket bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat dalam dua bentuk, yakni Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Minyak Goreng. Implementasi pola hubungan patron-klien bukan hanya dalam formula kebijakan namun dalam tindakan personal presiden Jokowi ketika berkunjung atau audiensi dengan masyarakat dengan memberi hadiah sepeda dalam sebuah acara atau melempar bingkisan dari dalam mobil kepresidenan kepada warga yang berjejer di tepi jalan menyambutnya penuh histeria dalam sebuah kunjungan. Dalam tradisi masyarakat patron-klien semacam ini pemberian (dalam bahasa jawa disebut dengan dum-duman) adalah indikator utama yang bisa dijadikan alat ukur masyarakat menilai citra baik-buruknya pemerintah di mata masyarakat secara langsung dan sederhana. Bagi pemegang kekuasaaan tradisi dum-duman atau bagi-bagi ini dipelihara karena menjadi simbol efektif membangun citra dan bahkan legitimasi, sementara bagi masyarakat dum-duman ini menjadi simbul kehadiran negara sekaligus rejeki nomplok yang dengan gembira ria diterima. #bilik.renung.episode_180422#
Share:

Minggu, 08 Mei 2022

ABSURDITAS DAN DRAMATURGI MIMBAR

ABSURDITAS DAN DRAMATURGI MIMBAR Edisi Ramadhsn Oleh Saifudin Zuhri Ada sebuah masjid di Yogyakarta yang begitu popular dan ikonik, bahkan sekarang menjadi tujuan wisata religi dari berbagai daerah. Rasa penasaran saya mendorong untuk mengadendakan berkunjung langsung ke masjid dimaksud. Apalagi di bulan Ramadhan ini ada event khusus dengan nama KRJ (Kampung Ramadhan Jogokariyan). Sesampai di lokasi di ujung gang sudah dijejali pengunjung, di sepanjang jalan menuju masjid itu berjejer para pedagang menjajakan beraneka ragam makanan dan minuman menjelang buka puasa, walaupun disediakan makan buka puasa gratis, para penjual tetap sibuk meladeni ramainya pengunjung membeli dagangannya. Suasana begitu semarak dan meriah yang menggambarkan antusiasme masyarakat. Setelah berbuka dan sholat maghrib kusengaja menunggu kumandang sholat isya dan tarweh. Tepat sesuai jadwal sholat Isya’ kumandang suara muadzin terdengar nyaring di toa masjid. Tidak ada yang berubah dari pengaturan volume suara toa masjid itu sebagaimana yang diatur melalui keputusan Kemenag tentang aturan pengeras suara di masjid. Sebagaimana masjid-masjid lain di seluruh penjuru Jogja bakda Isya diadakan ceramah atau kultum (kuliah tujuh menit) kepada para jama’ah. Dalam ceramahnya sang khotib menyitir beberapa dalil dengan tafsir yang berusaha untuk dikontekstualisasi dengan kasus-kasus kekinian. Penceramah juga menyinggung isu-isu aktual semacam demo di Jakarta beberapa hari yang lalu dengan insiden pengeroyokan Ade Armando, menyinggung tentang tuntutan Jokowi mundur, harga minyak goreng, dan bahkan menyingggung isu global walau jauh di seberang sana yakni perang Rusia Ukraina. Dengan gaya melucu sang penceramah jelas tidak bisa menutupi kemana kecenderungan ideologis dan afiliasi politiknya. Syahwat politik itu seakan tak tertahankan dalam sindiran-sindiran ceramahnya, sejak dari uangkapan sakarsis yang mensyukuri dan bergembira atas tragedi pengeroyokan Ade Armando, nyinyir terhadap kebijakan pemerintah yang menaikkan harga pertamax, tata niaga minyak goreng yang amburadul, hingga dukungan atas serangan Rusia terhadap Ukraina yang menurut persepsi penceramah karena banyak orang Yahudi di Ukraina. Ada beragam respon jama’ah terhadap isi ceramah itu, sebagian ada yang manggut-manggut menunjukkan persetujuan dan dukungan atas pernyataan-pernyataan sang khotib, ada yang mengantuk, ada ada pula yang yang terkesima dan sesekali ikut tertawa karena mendengar retorika penceramah yang begitu lancar, lantang, dan terkadang mengundang gelak tawa. Namun tertawanya para jamaah bisa jadi bermakna ganda, ada yang tertawa karena memang satu frekuensi dengan sang penceramah, tapi juga tidak sedikit yang tertawa karena terstimulasi sampingnya tertawa, atau tertawa karena spontan bagai nonton sebuah drama di sebuah panggung. Sejenak saya bertanya pada salah seorang yang duduk di sebelah saya darimana berasal, dalam rangka apa, dan dengan siapa datang jauh-jauh ke masjid ini. Dengan polos orang tersebut menjawab kalau bukan dari Jogja, datang dalam rangka rasa penasaran melihat berita viral tentang semaraknya KRJ di media sosial, sekaligus pingin jalan-jalan menikmati suasana ramadhan di kota Jogja. Barangkali sang penceramah, pengurus masjid, dan jamaah yang satu frekuensi merasa bahwa tujuan dakwah telah berhasil, namun jangan lupa sebagian besar pengunjung mempunyai niat yang beragam. Sejumlah sindiran dan antipati terhadap pemerintah belum tentu diiyakan dan disetujui semua jama’ah. Para jama’ah punya logika sendiri ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan krusial dalam hidup, seperti partai apa yang akan dipilih dalam pemilu nanti, siapa capres-cawapres yang diidolakan pada pilpres 2024. Bahkan jika ditanya apa kesan berkunjung ke KRJ bisa jadi manisnya kolak, beraneka ragam jenis makanan, harga yang murah, dan ramainya suasana pengunjung jauh lebih menyita perhatiannya daripada agitasi dari mimbar masjid itu sendiri. Selain secara konten isi ceramah jika dikritisi bersifat absurd, bagi khalayak yang hadir bisa jadi memiliki kesadaran yang diendapkan dalam batinnya bahwa semua ini adalah drama, dan ketika masa pilihan itu tiba maka tetap saja pilihan akan dijatuhkan pada hal-hal yang menjamin eksistensi dan habitat budayanya. Itulah mengapa politik aliran seakan abadi di negeri ini, dan tetap saja sillent mayority tetap memegang kendali di negeri ini. #bilik.renung.episode_170422#
Share:

MACAN TERNAK (EMAK-EMAK CANTIK PENGANTAR ANAK SEKOLAH)

EMAK-EMAK CANTIK PENGANTAR ANAK SEKOLAH (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Seperti biasanya di beberapa sekolah swasta favorit di kota ini pagi-pagi barisan emak-emak cantik itu mengantar buah hatinya masuk sekolah. Antrian panjang mobil-mobil bagus itu antri berjajar masuk ke halaman depan sekolah. Di dalam mobil mewah itu selain sang anak dan sopir pribadi turut serta sang bunda. Dari jenis mobil yang dikendarai, busana, dan asesories yang kenakan menggambarkan kelas sosial ekonomi yang disandang. Maklum emak-emak itu rata-rata bersuami orang mapan, seperti pegawai BUMN bonafit, pejabat ASN, dosen, TNI/POLRI, atau pebisnis sukses. Sebagaimana biasanya emak-emak yang punya banyak waktu luang itu ngobrol ngalor-ngidul dengan sesama komunitas pengantar anak sekolah favorit berbasis Islam itu. Banyak tema yang keluar dari bibir emak-emak berlipstik branded itu, sejak dari pamer tas, model perhiasan terbaru yang baru saja dibeli, kabar destinasi wisata yang baru saja dikunjungi, kuliner lezat nan unik, pamer karir suaminya, hingga ghibah salah satu dari komunitas mereka yang kebetulan pagi itu tidak nongol batang hidungnya. Waktu luang yang tersedia cukup banyak sambil menunggu anak selesai sekolah inilah sering muncul ide-ide untuk mengisinya dengan acara-acara kreatif. Salah satu kegiatan pengisi waktu luang itu adalah ajakan mengadakan semacam pengajian, kajian, tausiah, atau halaqoh. Kegiatan kajian rohani itu bisa diinisiasi salah satu dari mereka yang kebetulan memiliki literasi agama relatif lebih baik, atau dari agen gerakan tertentu yang memang mentarget komunitas semacam ini untuk melakukan tarbiyah. Dalam forum pengajian itu disampaikan ajaran-ajaran normatif untuk menanamkan cara pandang, norma, bahkan berperilaku menurut aturan ajran agama yang benar. Indoktrinasi sistemik ini lambat laun mampu mengubah mindset emak-emak. Bagi mereka kegiatan ini selain mengisi waktu luang cukup mempesona karena banyak informasi baru tentang wawasan keagamaan dari penceramah, apalagi jika pengisinya adalah ustadz beken selebritis. Maklum latar belakang emak-emak ini secara agama adalah kurang begitu leterated karena berasal dari keluarga abangan sehingga ketika mendapat tausiah dari sang penceramah langsung menelan mentah-mentah dan menjadi semacam penawar dahaga di tengah gemerlap gaya hidup yang sudah terlewati kebutuhan primernya. Untuk menambah daya religi kegiatan ini terkadang diadakan gerakan sholat Dhuha berjama’ah, ya maklum bagi kelas sosial ini pada jam 9 atau 10 pagi yang lazim adalah jam kerja, digunakan untuk mengekspresikan ghirroh agama. Dari kegiatan pengajian inilah akhirnya mengentalkan emak-emak cantik pengantar anak sekolah ini dalam sebuah group yang semakin solid untuk konsolidasi apa saja, sejak dari diseminasi informasi tugas sekolah, referensi less bagus, sosialisasi kebijakan sekolah, undangan rapat wali murid, dan lain sebagainya. Untuk tetap mengakomodasi hasrat gaya hidup emak-emak cantik ini tidak jarang juga sesekali diwarnai dengan arisan, kuliner bareng, atau sekedar jalan-jalan ke mall. Bagi emak-emak yang tidak bergabung dalam group ini akan mendapat pengucilan dan dianggap tidak gaul, tidak kompak. Implikasi lanjutannya bukan hanya emaknya namun sang buah hati anak akan didiskualifikasi dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Apalagi jika sang emak dan anaknya dianggap tidak berhijrah dan menaati norma-norma sesuai indoktrinasi dalam halaqoh-halaqoh tarbiyah itu. Seiring waktu intensitas pengajian dan komunikasi group medsos mereka mulai merubah (biasanya disebut dengan istilah hijrah) tentang cara pandang, perilaku, dan gaya hidup beragamanya. Jika sebelumnya tidak berhijab maka mulai mengenakannya, bagi yang sudah berhijab dengan jilbab biasa saja sebelumnya mulai menggantinya dengan hijab yang dianggap lebih syar’i. Demikian halnya cara pandang dan perilaku di medsos. Pengaruh afiliasi politik, ideologi, dan cara tafsir dalil-dalil agama yang dijejalkan secara intensif dan massif oleh para penceramah agama ini akhirnya juga mengubah secara signifikan, dan bahkan secara mengejutkan mampu bertolak belakang dengan ideologi institusi dimana suaminya bekerja. Fenomena emak-emak cantik antar sekolah di atas menjadi penjelas mengapa akhir-akhir ini muncul hal aneh dan kontradiktif yang dilakukan istri-istri pada suami yang bekerja di BUMN, ASN, dosen, pebisnis, dan bahkan TNI/POLRI. Fenomena itu pula yang mengintrodusir Islam skriptualistik dan bahkan radikal masuk ke keluarga yang semula inklusif dan nasionalis menjadi ekskusif dan garang komentar-komentar di media sosial yang bernada pedas, nyinyir, dan antipati terhadap pemerintah. Semoga puasa Ramadhan kali ini menyadarkan kita semua, aminnn…. #bilik.renung.episode_160422#
Share:

MASJID MATARAMAN KINI

MASJID MATARAMAN KINI (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Kusengajakan sholat tarweh keliling dari masjid ke masjid di bulan Ramadhan tahun ini biar bisa kulihat dengan kasat mata warna warni masjid negeri ini. Pada sebuah masjid yang begitu historis membawa Islam ke pedalaman Jawa dan dari masjid ini pula menggambarkan bagaimana terjadi titik temu antara kekuasaan Jawa, tradisi lokal, dan Islam bertemu. Perjumpaan di titik yang sama ini karena masing-masing entitas (baik pemegang kekuasaan Jawa, pelaku tradisi, dan Islam) sama-sama memiliki kharakter yang toleran dan inkulsif. Dari sinilah lahir prototype Islam Jawa dan akhirnya menjadi agama mayoritas di pulau Jawa bahkan nusantara. Ada yang mengejutkan ketika pada hari keduabelas Ramadhan di antara barisan shof sholat berjamaah tarweh di masjid dimaksud tepat di depan saya salah seorang jama’ah mengenakan kaos bertuliskan “Hidup Mulia atau Mati Syahid”. Kalimat di punggung kaos tersebut bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Pertama; ini adalah fenomena baru bahwa telah terjadi pergeseran tipe (jama’ah) masjid dari yang tardisional ke kosmopolit bahkan eksklusif. Fenomena ini bahkan terjadi di masjid yang menjadi episentrum budaya Jawa. Masjid tradisional yang dulu berorientasi pada lokalitas sudah terilfiltrasi gerakan-gerakan transnasional yang diintrodusir ideologi pan Islamisme seperti ikhwanul muslimin, hizbut tahrir, al kaeda, mujahidin, ISIS dan semacamnya. Diksi “Hidup Mulia atau Mati Syahid” adalah tagline yang begitu popular di kalangan mujahid dalam gerakan-gerakan organisasi tersebut. Kedua; bisa jadi sang pemakai kaos oblong tersebut tidak tahu menahu makna dan pesan dari tulisan di punggungnya. Dia mendapatkan mungkin secara gratis dari temanmya dan pada saat itu kaos itulah yang mungkin dianggap layak untuk dipakai sholat berjamaah di masjid itu. Walaupun sang pemakai juga mengenakan peci ala mujahidin Afghanistan atau Mesir, memakai kaos itu tak ubahnya kaos lain dengan tulisan iklan toko cat atau kaos gratis pembagian salah satu parpol pada pemilu yang lalu. Tidak seserius yang pertama. Begitulah biasanya masyarakat Jawa mataraman menetralisir keketatan norma. Ketiga; mungkin yang aneh adalah penulis sendiri melihat kaos begitu saja kok dipersoalkan. “Gitu saja kok repot”, begitulah gumam Gus Dur yang dulu begitu popular. #bilik.renung.episode_150422#
Share: