Selasa, 31 Agustus 2021

PERPANJANGAN PPKM, WACANA MASUK SEKOLAH, DAN SENJAKALA NALAR SEHAT

Untuk kali kesekian PPKM diperpanjang lagi dan lagi. Dalam pengumuman perpanjangan PPKM yang disampaikan presiden langsung itu berbagai data disajikan. Dari sajian data tersebut rata-rata mengalami perbaikan kondisi pandemic covid 19 dengan indikator di berbagai daerah mengalami penurunan level PPKM dari 4 ke 3 dan bahkan beberapa daerah berhasil turun dari level 3 ke 2. Dalam pada itu secara kasat mata fakta-fakta penurunan covid 19 di lapangan juga terlihat, seperti tingkat hunian pasien covid di rumah sakit yang menurun, lalu lalang ambulan menyepi, dan petugas penggali kubur jenazah covid tak selelah sebelumnya. Seiring dengan penurunan level PPKM tersebut berbagai kebijakan pelonggaran dilakukan, sejak dari mulai dibukanya pusat perbelanjaan modern (mall), pariwisata, dan wacana sekolah secara luring. Seiring dengan itu semua geliat roda ekonomi mulai berputar, jalanan mulai ramai, dan masyarakat mulai bersungut-sungut bangun dari kejenuhan masa gabutnya. Fenomena tersebut memang menjadi kabar menggembirakan dan membangkitkan rasa optimisme masyarakat, namun ada sejumlah pertanyaan kritis layak diajukan, seperti apa penyebab utama penurunan data Covid 19? Apakah perilaku masyarakat parallel dengan kesadaran hukum kausalitas? Bagaimana persiapan lembaga pendidikan (terutama pendidikan dasar dan menengah) menyambut pembelajaran offline? Secara data statistic penurunan data penyebaran Covid 19 tidak dapat dilepaskan dari pemberlakuan rekayasa sosial yang bernama PPKM di beberapa daerah yang dikaterorikan zona merah dan hitam. Itu artinya pembatasan mobilitas warga menjadi factor penyebab (prima kausa) menurunnya data. Di sini berlaku hukum kausalitas sebab-akibat. Prestasi penurunan jumlah paparan Covid sebagai akibat dari sebab pembatasan pergerakan warga. Dengan demikian akan terjadi sebaliknya, jika semakin warga banyak bergerak maka covid 19 pun akan kembali naik. Hukum kausalitas tersebut mungkin gampang dipahami dalam tataran kognitif, namun belum terinternalisasi dalam kesadaran dan perilaku public. Lihatlah belum lama level PPKM diturunkan masyarakat sudah berbondong-bondong mengunjungi lokasi pariwisata, tempat-tempat public mulai ramai pengunjung. Abainya masyarakat dengan prokes adalah bukti bahwa Pandemi ini tidak menjadikan manusia tersadar dengan hukum-hukum dasar kausalitas. Menurunnya jumlah Covid 19 seakan tak terkait dengan sebuah upaya rekayasa sosial, namun dipersepsikan terjadi begitu saja. Bahkan pandemic global ini dipersepsikan sebagai takdir tuhan. Kalaupun ada berbagai upaya penanganan itu direduksi dan didifferensiasi sebagau urusan pemerintah semata. Dari sekian entitas sosial yang merespon menurunnya data pandemic, menarik mengamati respon dari lembaga pendidikan yang akan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Rencana tersebut tentu disambut riang gembira para siswa dan wali murid yang telah sekian lama jenuh dengan pembelajaran online. Yang menarik untuk diamati adalah parameter yang digunakan dan bentuk antisipasi sekolah dalam menyambut kebijakan pembelajaran tatap muka. Sekolah meletakkan vaksin sebagai andalan pembentukan imun tubuh dan protocol kesehatan sebagai andalan penanggulangan penularan covid antar siswa. Karena itu sekolah sibuk mengadakan program vaksinasi dan pengadaan berbagai peralatan dan fasilitas pembelajaran bernuasa prokes, seperti tata ruang antar siswa yang berjarak, alat tester suhu tubuh, hand sanitizer, tempat cuci tangan, dan kewajiban memakai masker. Itu semua benar adanya dan harus. Namun untuk jangka panjang institusi pendidikan belum menjamah dimensi ontologis dan mendasar dari pandemic ini, yakni imun tubuh dan budaya hidup sehat. Dalam perspektif ilmu kesehatan imun tubuh dibentuk dari dua faktor, yaitu, pertama: proses panjang sejak dari gaya hidup, pola makan, pola istirahat; kedua, vaksin. Dari kedua faktor tersebut yang pertama mestinya menjadi perhatian institusi pendidikan, apalag tingkat sekolah dasar dan menengah dimana menjadi basis pembentukan imun tubuh manusia. Pada usia itulah masa keemasan umur manusia membentuk daya tahan tubuhnya, seperti pembentukan masa otot, kepadatan tulang, detak jantung, dan lain sebagainya. Penempaan fisik manusia terjadi di usia-usia tersebut. Jenis makanan apa yang dikonsumsi, bagaimana pola tidurnya, dan bagaimana gerak badannya menjadi investasi utama dalam membangun imun tubuh. Itu semua memang proses panjang namun itulah pondasi utama dalam membangun daya tahan tubuhnya ke depan. Melihat perkembangan situasi saat ini pendidikan jasmani menjadi sangat relevan untuk direvitalisasi dalam struktur kurikulum sekolah dasar dan menengah. Dulu waktu SD di dinding sekolah Inpres di kampung saya tertempel semboyan “Mensano Incorpore Sano”, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Olah raga yang selama ini dianggap pelajaran tambahan dan sampingan di sekolah mestinya diutamakan dalam program pendidikan, bahkan di masa pandemic ini mestinya ada gerakan berjemur pagi tiap hari di sekolah-sekolah sambil senam pagi sebagaimana masa lalu dengan senam SKJ yang begitu ikonik dan popular itu. Sekolah tidak hanya sibuk pengadaan tempat cuci tangan dan peralatan disinfektan yang memakan biaya berjuta-juta itu namun lupa untuk berkeringat menggerakkan tubuh mungil anak-anak yang malas bergerak karena kebanyakan main game online. Demikian halnya para guru pun juga harus ikut berolahraga supaya perut buncitnya tidak semakin maju karena menikmati kemakmuran dari tunjangan sertifikasi guru, dll. Sesekali sekolah mengadakan gerakan makan sayur dan buah untuk menetralisir toksin akibat budaya pop makan jungfood yang sudah melanda selera lidah anak-anak usia dini. Dalam menegakkan prokes sekolah harus menanamkan logika dasar dan nalar sehat bahwa kesehatan itu adalah hasil dari sebuah proses rasional. Rasionalitas harus ditanamkan dalam setiap aturan supaya anak dalam menaatinya bukan semata karena faktor deontologis namun sadar akan utilitasnya. Memakai masker bukanlah bagian dari atribut kewajiban sekolah sebagaimana memakai baju seragam yang akan dilepas ketika tidak sedang berada di lingkungan sekolah. Memakai masker adalah kebutuhan rasional yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain sehingga memakainya adalah tuntutan nalar sehat. Memakai masker juga bukan atas dasar ketakutan sebagaimana umumnya para pengendara mengenakan helm lebih akrena takut ditilang pak polisi ketimbang keadaran melindungi diri sendiri. Itulah rasionalitas yang harus mulai dibangun di tengah pandemic global ini. Kesadaran rasional ini menjadi kunci apakah bangsa ini berhasil keluar dari derita panjang ini hanya sebagai korban dan penonton atau mampu bertahan bahkan beranjak naik kelas menjadi bangsa yang berkeadaban dan berkemajuan. Mari bernostalgia senam SKJ diiringi musiknya yang khas dari tape jadul merk Panasonic dengan baterai ABC yang nyaring di halaman sekolah SD inpresku itu…… #Bilik.Renung.Episode_310821# Ditulis oleh: Saifudin Zuhri
Share:

AGAMA KEBENCIAN

Menarik mengamati kelakuan dua orang dari dua keyakinan yang berbeda yang akhir-akhir ini masuk ke ranah hukum, yakni Muhammad Kece dan Yahya Waloni. Muhammad Kece dilaporkan karena diduga penistaan terhadap simbul-simbul agama Islam dan Yahya Waloni diperkarakan karena melecehkan dogma-dogma agama Kristiani dengan mengatakan Kitab Injil itu palsu dll. Memang kedua orang tersebut tidak bisa dikatakan representasi dari kedua institusi agama tersebut, namun berulangnya saling berujar kebencian antara kedua umat agama tersebut menarik untuk direnungi. Mengapa Islam maupun Kristen yang secara historis dan geneologis berasal dari sumber yang sama yakni Nabi Ibrahim di sepanjang peradabannya justru saling membenci bahkan berkonflik. Bagaimana teologi kebencian itu dilestarikan hingga kini bahkan direproduksi berlipat ganda oleh media berbasis online di era sekarang ini. Sebenarnya fenomena membenci kepada umat beragama lain bukan hanya monopoli antara Islam dan Kristen saja, di India kebencian juga terbangun dalam komunitas umat Hindu terhadap Islam di Kashmir, di Myanmar umat Buddha terhadap komunitas Islam Rohingya, dan lain sebagainya. Walaupun di masing-masing negara memiliki varian variable yang berbeda-beda akan tetapi nuansa kebencian agama acapkali menyembul di tengah konflik-konflik setempat. Untuk merespon fakta kebencian antara kedua belah pihak itu biasanya masing-masing institusi membela diri dengan nada difensif bahwa agamanya mengajarkan tentang kesantunan dan keluhuran seperti bahwa dalam jargon agama Islam ada ajaran tentang rahmatan lil’alamin, lakum dinukum waliyadin, dan seterusnya. Demikian halnya dogma Kristiani diproklamirkan sebagai agama penuh kasih sayang, damai, dan lain sebagainya. Demikian halnya di Hindu dan Buddha komunitas pemeluknya membela diri dengan mengatakan bahwa keyakinannya mengajarkan tentang kesucian dan menahan diri dari nafsu amarah, dll. Untuk menjaga kesucian dan marwah agamanya masing-masing semua institusi agama tersebut masih menambah argument apologis bahwa kalaupun ada salah satu anggota ummatnya merendahkan dan menistakan kelompok lain itu adalah karena oknumnya dan bukan kesalahan agama itu sendiri. Begitulah pembelaan diri yang sering kali berkumandang. Sikap apologis dengan menarik garis batas antara pemeluk dengan agamanya bisa dianalisis melalui dua sudut pandang, yaitu perspektif essensialisme dan konstruktivisme. Dalam perspektif essensialisme kebenaran itu otonom dan permanen dalam institusi atau organisasi dan terpisah dengan orang per orang yang menjadi anggotanya, sehingga jika ada kesalahan atau keburukan yang dilakukan oleh pemeluk sebuah agama maka itu ditimpakan pada oknumnya sementara institusi agama berada dalam kebenaran abadi. Dalam perspektif konstruktivisme, kebenaran adalah proses dialektika dinamis antara subyek dengan institusi. Manusia sebagai subyek adalah hasil konstruksi dari institusi itu sendiri. Kesadaran seseorang tidak bisa lepas dari relasi kuasa dengan institusi di luar dirinya. Karena itu bagaimana sebuah kesadaran itu dibentuk bukanlah entitas tersendiri yang otonom namun sebagai hasil proses dialektika terus menerus antara eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Lebih jauh proses ini kemudian didekonstruksi ulang dalam lingkaran dialetika terus menerus yang sangat ditentukan oleh relasi kuasa, media, dan representasi kepentingan. Kesalahan atau keburukan yang dilakukan oleh anggota sebuah organisasi, apalagi ini terjadi berulang kali dan terpola, maka tidak bisa hanya dijelaskan sebagai permasalahan oknum semata. Ada sejumlah pertanyaan kritis yang bisa diajukan, seperti bagaimana sejarah sebuah konsep teologis itu dibangun? Adakah secara tersurat dalam kitab suci memang ada ajaran yang mengandung ujaran kebencian terhadap kelompok lain? Bagaimana proses sosialisasi dan komunikasi pesan ajaran itu disampaikan kepada khalayak pengikutnya? Bagaimana metode tafsir terhadap sebuah dalil untuk konteks kehidupan umat yang berjarak jauh dengan sumber aslinya (baik secara tempat maupun waktu)? Dari perspektif konstruktivisme maka fenomena ujaran kebencian dan penistaan antar agama tampilnya Yahya Waloni, Muhammad Kece, Ust Abdul Somad, Felix Siauw, Jozeph Paul Zhang yang heboh di dunia maya akhir-akhir ini adalah episode sambungan dari pemeran-pemeran sebelumnya. Dan jika institusi agama tidak kunjung memiliki keberanian mendekonstruksi dogma-dogma bekunya dengan perspektif kritis, maka tinggal nunggu waktu akan hadir nama-nama baru untuk melanjutkan cerita bersambung, yakni mereproduksi kebencian dan penistaan. Untuk memutus mata rantai reproduksi teologi kebencian ini saatnya semua pihak jujur pada diri sendiri dan mengalihkan energinya lebih pada bagaimana kehadiran agama memberi manfaat untuk kehidupan nyata. Jika hal itu tidak kunjung bisa dilakukan oleh institusi agama maka saatnya institusi sosial di luar agama, terutama negara, menjadi pihak yang sah menegakkan ketertiban umum dengan segenap perangkat yang dimilikinya. #Bilik.Renung.Episode_270821 ditulis oleh Saifudin Zuhri#
Share:

Senin, 30 Agustus 2021

CUBITAN KECIL TERHADAP KAPITALISME

Ada beberapa cerita kecil yang aku kais dari fenomena yang mengemuka di kota kecilku Yogyakarta sejak pandemic Covid 19 melanda dunia, tak terkecuali kota gudeg ini. Mas-mas dan mbak-mbak cantik menjajakan Pizza Hut di tepi jalan lengkap dengan kostum korps Pizza Hut dan sepeda motor dengan box khasnya. Sang penjaja ada yang melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang yang lewat di jalan atau sekedar memampang tulisan promo harga yang dibanting murah untuk mempersuasi pembeli. Cara menjual yang dipakai pekerja Pizza Hut ini meniru-meniru cara yang dipakai para PKL yang selama ini menjadi strategi pemasarannya, yakni menempati ruang kecil tepi jalan (tak jarang di atas trotar pejalan kaki), harga murah, dan menggunakan komunikasi langsung kepada pelanggannya. Di hari yang lain saya makan di sebuah warung angkringan, sebuah tempat makan khas di sudut-sudut kota pelajar ini. Ngangkring bukan hanya untuk makan, sambil menikmati bungkusan nasi kucing dan lauk pauk sederhana dengan gaya makan angkat kaki satu di kursi kayu panjang para pelanggan ngobrol ngalor ngidul membahas apa saja tanpa mengenal batas kelas sosial dan atribut status apapun. Di tengah keriangan ngobrol itu sang penjual cerita bahwa warungnya baru saja pindah dari halaman parkir sebuah kafe terkenal dimana ia mencoba mengais rejeki luberan dari pengunjung kafe yang rata-rata berkantong tebal itu sambil sesekali nyambi jasa parkir. Ia pindah karena kafe yang menjadi tempat mengais rejeki bertahun-tahun itu akhirnya bangkrut dan tutup total karena pandemic yang tak kunjung pasti kapan berhenti. Penjual angkring itu merasa bersyukur bisa bertahan di tengah sulitnya ekonomi jika dibandingkan dengan bos kafe dimaksud. “urip ki wang sinawang mas…” begitu ungkapan singkatnya namun maknanya begitu mendalam. Sebuah peristiwa di suatu pagi yang cerah juga saya saksikan, salah satu mall mewah di Yogyakarta yang sudah tutup berbulan-bulan seiring dengan pemberlakuan PPKM akhirnya diijinkan buka dengan berbagai ketentuan prokes ketat. Namun dengan dibukanya mall tersebut tak serta merta membuat masyarakat ramai berbondong-bondong mengunjungi mall sebagaimana dahulu kala. Walau mall sudah dibuka namun banyak tenant yang masih tutup dan sepi pengunjung. Untuk sekedar bertahan hidup manajemen sebuah korporasi yang menjadi salah satu tenant mall tersebut membuat sebuah cara penjualan dengan mengeluarkan barang dagangannya di belakang mall dan dicentelkan di pagar untuk dijajakan kepada masyarakat yang ramai di pasar tradisional yang kebetulan berada tepat di belakang mall tersebut. Para SPG seksi, cantik, dan wangi itu memanggil-manggil pengunjung pasar tradisional supaya tertarik untuk membeli barang-barang yang biasanya dipajang di etalase mewah di dalam mall. Hari-hari ini jalan kecil masuk ke kampungku juga semakin ramai dengan para PKL dan warung-warung kelontong yang menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Dulu sebelum pandemic tetangga saya untuk sekedar membeli pasta gigi dan mie instan bergaya pergi ke mall karena merasa lebih keren dan tempatnya sejuk bersih, namun masa pandemic ini cukup membeli di warung sebelah. Selain itu semakin banyak warung-warung yang menjual sayur, rempah, empon-empon dan berbagai hasil pertanian ramai dikunjungi pembeli ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak kos. Dari berbagai cerita kecil terpapar di atas ada banyak hal yang bisa dipetik di masa pandemi ini. Selama ini kapitalisme global memang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dengan berbagai gemerlap gaya hidup yang ditawarkan. Masyarakat pun hanyut dalam arus besar yang seakan tak bisa dibendung itu. Tak peduli dari kelas sosial ekonomi apapun semuanya tak sadarkan diri tenggelam dalam arus gaya hidup modern yang hakikatnya semakin melipatkgandakan keuntungan pemodal (kaum kapitalis) yang tampil bak hantu globalisasi. Pandemi global ini memaksa berbagai korporasi besar itu untuk tunduk pada sistem sosial yang hakikatnya lebih asli dan seimbang dengan budaya bangsa ini. Pada dasarnya masyarakat kita adalah masyarakat komunal, agraris, dan ndeso. Masa pandemi ini orang dipaksa membeli apa yang perlu dibeli, berkomsumsi sebatas apa yang memang benar-benar dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan dan hasrat. Proses jual beli pun buka hanya bertujuan pertukaran namun adalah interaksi sosial yang penuh makna. Di masa pandemi ini saya menyaksikan dengan mata kepala bagaimana kecongkakan kapitalisme yang selama ini jumawa dan seakan tak terkalahkan tunduk dan mengemis pada habitat kita yang sesungguhnya, yaitu guyub rukun dan sederhana. Semoga ini menjadi momentum bagi bangsa ini untuk merumuskan ulang peta jalan pembangunan ke depan. #bilikrenungeps63 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 26/08/21
Share:

MANUSIA SEDANG MENCARI FORMULA BAGAIMANA HIDUP BERSAMA

Semua makhluk hidup memiliki caranya sendiri bagaimana mempertahankan hidup dan kehidupannya. Berkumpul atau mengikat dalam kebersamaan adalah salah satu cara bagaimana sebuah spesies mempertahankan eksistensinya dari berbagai ancaman. Pada zaman Paleolitikum manusia hidup berkelompok untuk menghadapi ganasnya alam semesta dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu. Pada abad pertengahan feodalisme menjadi sistem sosial yang memposisikan bangsawan sebagai elit yang mendominasi dalam hidup berkelompok. Era teokrasi hidup bersama dibangun di atas panji-panji keyakinan firman tuhan (agama). Di era modern peradaban manusia didasarkan pada ikatan konsensus sebagai kontrak hidup bersama, sejak itulah nation-state terlahir yang pada akhirnya melabeli identitas kelompok manusia dalam garis teritori dan administrasi. Dalam diksi konstitusi Republik Indonesia negara diwajibkan melindungi segenap tumpah darah warganya. Era postmodern dimana neoliberalisme semakin merajalela dan menggurita jagat dunia menjadikan manusia melabeli eksistensinya berdasar budaya pop yang diintrodusir oleh merk-merk dagang korporasi kapitalisme global. Era revolusi industry 4.0 secara cepat manusia digroup-groupkan berdasar keanggotaan kelompok virtual. Dan ketika pandemic melanda dunia akankah manusia dikelompok berdasar parameter kesehatan, vaksin, dan gejala-gejala biologis badan manusia. Di tengah manusia sejagat dilanda kepanikan dan kebingungan bagaimana bertahan hidup di tengah ganasnya serbuan virus corona tiba-tiba dunia dikagetkan dengan menyeruaknya Taliban di Afghanistan yang tiba-tiba muncul menjungkalkan sistem hidup berkelompok atas nama negara modern yang disponsori negara-negara Barat. Taliban yang mengusung panji keyakinannya unjuk kekuatan bahwa mereka juga berhak memproklamirkan sistem hidup bersama menurut versinya, walau ke depan akan diuji daya tahan dan kehandalannya di tengah masyarakat dunia yang sistem berbangsa dan bernegaranya dibangun di atas kontrak sosial yang bernama demokrasi. Dari rentetan sejarah panjang peradaban manusia mempertahankan hidupnya, terlihat bagaimana manusia hidup berkelompok dengan berbagai argumentasi yang beragam dan dinamis. Sistem mana yang akan mampu bertahan akan ditentukan kemampuan masing-masing sistem bisa beradaptasi dengan situasi yang berkembang. Indonesia sebagai bangsa “bentukan” dan terus proses “menjadi” daya tahannya akan ditentukan imajinasi-imajinasi tentang masyarakat adil dan makmur berdasar Pancasila yang baru saja kita rayakan ulang tahunnya yang ke-76. Dirgahayu republikku…. #bilikrenungeps62 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

Ketika PANDEMI meng-HIJRAH-kan Penduduk Bumi

Dalam khazanah sejarah Islam hijrah yang akhirnya menjadi pangkal penghitngan awal tahun baru Islam disandarkan pada peristiwa berpindahnya Nabi Muhammad beserta pengikutnya kala itu dari Makkah ke Madinah. Perpindahan tersebut bukan sekedar pergeseran teritorial namun juga menyiratkan sarat makna. Berikut beberapa makna substantif yang bisa dipetik dari tonggak sejarah baru peradaban Islam dimaksud dan bagaimana kontekstualisasi dalam optik kekinian. Pertama, secara sosiologis hijrah merupakan perubahan type masyarakat dari struktur tribalism ke struktur egaliterianisme. Tribalisme adalah sebuah bentuk masyarakat yang didominasi oleh kepala suku sebagai pusat orientasi dan sumber sistem sosialnya. Sedangkan egaliterianisme adalah type masyarakat dengan pola kesetaraan yang kala itu mengambil jargon tauhid sebagai model gerakan sosial untuk menyamaratakan anggota masyarakat. Keimananan kepada Tuhan dan kesetiaan kepada Nabi adalah satu-satunya sistem pengelompokan atau stratifikasi sosial kala itu. Kedua, secara politis hijrah merupakan gerakan revolusi sistem kekuasaan dari dominasi dan monopoli para elit yang menikmati sistem klan dan patriakhi yang menghegemoni kesadaran public dan membentuk sistem perbudakan menjadi sistem kekuasaan yang lebih terbuka dimana lagi-lagi kepercayaan kepada Tuhan dijadikan simbul gerakan politik untuk merobohkan sangkar besi kekuasaan yang dibangun para elit kala itu. Tampilnya Muhammad sebagai inisiator gerakan revolusi dan agen perubahan kala itu cukup sukses hingga pada titik dimana oleh pengikutnya ditahbiskan sebagai bagian dari sistem keyakinan dan ajaran itu sendiri (walau pada perkembangan baru saat ini keyakinan ajaran dan sosok figure Muhammad oleh sebagian pengikutnya yang terlalu fanatic menjelma menjadi kekuasaan baru yang perlu dikritisi juga). Ketiga, secara teologis hijrah merupakan pembongkaran sistem kepercayaan lama yang bersumber dari pagan-polytheistic ke monotheistic. Pagan-polytheistic adalah sebuah sistem kepercayaan yang berhasil dikonstruksi oleh para elit suku dan pelanggeng patriarkhi untuk dijejalkan dalam kesadaran keyakinan masyarakat bahwa kekuatan yang harus ditakuti adalah simbul-simbul berhala yang pada hakikatnya adalah representasi kepentingan kekuasaan para elit dan lelaki. Islam kala itu sukses membuat antithesis dengan menawarkan konsep kekuasaan abstrak yang tidak boleh disimbulkan dalam bentuk apapun dan steril dari representasi kepentingan manapun kecuali kesadaran terus menerus akan kehadiran kekuasaan Tuhan dalam hati dan fikiran setiap orang. Keempat, secara kebudayaan hijrah adalah perubahan perilaku dan gaya hidup dari hedonisme profan (dunia material) berpindah ke perilaku dan kebiasaan baru yang bernilai kualitatif, rasional, dan bermanfaat menembus sekat-sekat yang menghalangi manusia tampil sebagai “manusia” dengan nilai-nilai kemanusiaannya. Mencoba memetik hikmah dibalik hijrah sebagaimana terurai di atas membawa pada kesadaran bahwa makna tertinggi manusia adalah kemampuan untuk berubah. Dalam konteks gerakan sosial kontemporer substansi hijrah bisa ditelaah dalam berbagai gerakan sejenis walau tidak sama dengan berbagai diksi yang sering digunakan dalam lanskap politik modern seperti revolusi, reformasi, transformasi, dan lain sebagainya. Di masa pandemic yang sedang melanda dunia sekarang ini, bisa jadi merupakan awal dimana manusia dipaksa untuk berhijrah dari tatanan lama ke nilai-nilai baru (muncul istilah new normal). Tanda-tanda perubahan itu kian hari semakin menguat baik dalam skala mikro maupun makro. Akan ada banyak perubahan krusial dalam berbagai aspek kehidupan yang tak terbanyangkan sebelumnya sejak dari cara-cara hidup keseharian hingga berskala besar tatanan dunia global. Hanya saja jika dalam peristiwa Hijrah 1 Muhamarram, gerakan pencerahan (renaissance) di Eropa, revolusi politik di Perancis, revolusi Meiji di Jepang, revolusi kebudayaan di China, reformasi di Indonesia, dan lain sebagainya, subyek utamanya adalah manusia, apakah perubahan sekarang ini subyek utamanya justru bukan manusia tapi virus; apakah ini pertanda kekalahan spesies manusia oleh mekanisme hukum seleksi alam sebagaimana yang dikemukakan oleh teori Darwin. Atau ini adalah tantangan bagi segenap manusia untuk menjawabnya sehingga menjadi layak disebut makhluk paling unggul diantara makhluk-makluk lain. Jika pandemic global ini berhasil dilewati dengan kecerdasan yang dimiliki manusia maka Tuhan tidak salah pilih menyematkan manusia dengan predikat “wakil Tuhan” (kholifatullah) di muka bumi ini, namun jika gagal dan akhirnya spesies manusia musnah maka betapa kecewa dan malunya Tuhan di hadapan para Malaikat yang dulu memprotesnya ketika Tuhan melantik manusia sebagai wakil-Nya. Wallahua’lam… (Tulisan ini dibuat di tengah kegabutan masa pandemic untuk merenungkan makna tahun baru Islam 1443 H yang tiap tahun ditafsirkan begitu-begitu saja) #bilikrenungeps61 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

BANGSA YANG MENYIA-NYIAKAN MOMENTUM UNTUK BELAJAR BERNEGARA

Memang sudah lama kita merdeka sebagai negara yang berdaulat, jika dihitung sejak diproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 maka usia bangsa Indonesia sudah 76 tahun, sebuah usia yang mestinya sudah cukup dewasa dalam bernegara. Namun ada sebuah istilah bahwa “tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan”. Di sepanjang usia tersebut kita sudah pernah dipimpin oleh 7 (tujuh) presiden dan sudah pernah melakukan 12 (dua belas) kali Pemilu. Sejak pertama didirikan bangsa Indonesia pun sudah sepakat sebagai negara berbentuk republik, bersistem demokrasi, dan diatur secara konstitusional. Dari serentetan data tersebut di atas seharusnya cukup bagi bangsa ini untuk mengerti bagaimana bernegara; seperti mengapa aparatur negara harus tegas dan adil, mengapa harus membayar pajak, bagaimana cara memilih pemimpin yang tepat, bagaimana cara menyampaikan aspirasi, bagaimana menyelesaikan masalah dengan jalur hukum, bagaimana proses regulasi, bagaimana seharusnya partai politik bekerja, bagaimana beragama di negara Pancasila, bagaimana bermedia social, apa perbedaan antara kewenangan lembaga pemerintah, parpol, ormas, dan lain sebagainya. Namun apa yang seharusnya (das sollen) tersebut masih berkesenjangan dengan apa yang senyatanya (das sein). Memang fakta tersebut bukan terjadi dengan sendirinya. Di periode awal kemerdekaan Indonesia bangsa ini masih uforia dengan kemerdekaan dan memanasnya perang dingin antara blok Barat yang liberal-kapitalis dengan blok Timur yang sosialis-komunis menjadikan negeri ini terjebak dalam semangat nafsu politik dengan melupakan basis dasar pembangunan ekonomi. Rakyat terpesona dalam agitasi politik Soekarno yang menggebu-gebu hingga lupa memahami bagaimana membangun sistem bernegara di masa-masa awal. Negara memang baru saja terlepas dari penjajahan secara fisik namun sistem antitesisnya sebagai negara yang merdeka tidak kunjung dibelajarkan kepada rakyatnya sendiri. Begitu juga pada masa Orde Baru. Ambisi politik Soeharto untuk mempertahankan kekuasaan meninabobokkan kesadaran rakyat untuk berpartisipasi dalam proses-proses politik kenegaraan sehingga antara rakyat dan negara kian berjarak. Bahkan pada masa itu untuk memilah pembagian kekuasaan dalam skema trias politica (eksekutif-legislatif-yudikatif) saja tidak mampu dilakukan karena segalanya memusat pada figure Soeharto. Keberhasilan Orde Baru membangun stabilitas keamanan, politik, dan pertumbuhan ekonomi merupakan realitas semu karena pada hakikatnya menisbikan partisipasi rakyat yang lazim dipersyaratkan dalam sistem negara demokrasi. Demikian halnya pasca lengsernya Soeharto yang popular disebut dengan era Reformasi. Terbukanya kran kebebasan sebagai sintesa baru dari otoriterianisme sistem sebelumnya menjadikan negara sebagai panggung terbuka untuk aktualisasi diri baik dalam skala kelompok maupun individu. Disinilah politik pencitraan menjadi sedemikian kuat di tengah iklim kebebasan demokrasi yang sebenarnya kondusif untuk dikembangkan. Namun hasrat nafsu politik pencitraan oleh kelompok atau elit individu ini membuang momentum pendidikan politik kewargaan (citizenship) bagi rakyat Indonesia. Dari ketiga periode type kekuasaan di Indonesia (Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi) telah menyia-nyiakan momentum bagi kita semua untuk bagaimana belajar bernegara secara baik dan benar. Orde lama telah membuang momentum semangat 45 lepas dari penjajahan, Orde Baru menisbikan momentum stabilitas pembangunan baik global maupun nasional, dan era Reformasi menyia-nyiakan momentum suasana kebebasan yang sudah sedemikian melimpah ruah di tengah kecanggihan teknologi yang semakin pesat. Walhasil sekian lama bangsa ini bernegara banyak hal yang akhirnya gagal dipahami oleh para para elit bangsa ini maupun rakyatnya sendiri. Oleh sebab itu adalah pemandangan yang lumrah jika di masa pandemic ini kebijakan apapun tak pernah efektif berjalan, apakah mau digas (diperlonggar demi pertumbuhan ekonomi) atau direm (PSBB, PPKM, hingga lockdawn sekalipun) tetap saja melahirkan kebisingan komentar baik di dunia nyata maupun di dunia maya. embuhlah……. #bilikrenungeps60 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

NEGERI YANG LUPA DIRI

Pandemi global Covid 19 melahirkan kesadaran baru tentang isu kesehatan. Sebelum corona melanda dunia industri budaya meremehkan nilai penting kesehatan demi gaya hidup, hedonisme, dan perburuan happiness sebagai simbul modernitas. Walaupun munculnya kesadaran itu terlambat namun itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Dalam kesadaran itulah muncul berbagai fenomena yang sebenarnya aneh bagi negeri tropis yang berada tepat di lintasan garis khatulistiwa, namun karena selama ini kita hanyut dalam industri budaya modern menjadikan fenomena tersebut seakan baru dan asing bagi kita sehingga kita harus bersusah payah melatih diri dengan kebiasaan baru yang seharusnya lazim dilakukan selama ini. Apakah fenomena baru tersebut? Berikut sebagian hal-hal baru yang terjadi akhir-akhir ini: 1) Berjemur matahari di pagi hari. Sebagai negeri khatulistiwa bangsa Indonesia dianugerahi pancaran sinar matahari yang begitu melimpah dengan durasi yang sangat ideal dalam ritme aktivitas manusia. Pembagian siang dan malam di negeri ini juga begitu ideal karena 24 jam dibagi secara merata. Coba dibayangkan bagaimana beberapa negara di belahan planet ini yang tidak kebagian sinar matahari atau tersinari matahari tapi dengan durasi yang kurang ideal (siangnya lebih lama atau lebih sedikit), seperti negara Denmark, Islandia, Norwegia, Alaska, dll. Oleh karena itu nikmat Tuhan manakah yang hendak engkau dustakan wahai penghuni negeri ini? Ada keanehan selama ini orang Indonesia justru menghindari sinar matahari dengan dalih takut rambutnya lepek, kulitnya gosong, dan lain sebagainya. Perasaan semacam ini tidak lain adalah dalih untuk promosi komoditas industri kaum kapitalis di bawah korporasi tran nasional, seperti sampho, kosmetik, whitening, pendingin ruangan, dan lain-lain, yang rata-rata berasal dari merk dagang negara-negara maju. 2) Makan sayur, buah, empon-empon, dan minum air putih (belakangan muncul anjuran minum air kelapa muda yang konon bagus untuk imun tubuh). Sebagai negara agraris adalah hal aneh dan naif ketika ada gerakan budaya makan dan minum bahan-bahan tersebut. Negeri yang begitu subur dan tanahnya begitu luas dengan dukungan iklim yang sangat ideal mestinya makan dan minum tersebut adalah hal lumrah dan menjadi budaya. Namun naifnya adalah selama ini budaya makan dan minum bahan tersebut tergerus oleh gaya hidup makan yang disublimasi oleh kapitalisme global dengan berbagai bendera korporasi raksasa seperti McD, KFC, Coca-Cola, dan berbagai jenis makanan ala ras kuning seperti dari Korea, China, dan Jepang. Bahkan di masa pandemic baru-baru ini muncul fenomena aneh anak-anak millennial keranjingan memburu makakan BTS meal hingga rela antri berjam-jam di gerai McD. Cobalah lihat generasi sekarang yang lidahnya tidak lagi doyan makan sayur, buah lokal, empon-empon, dan minum air putih. 3) Berolah raga. Sebagai negeri yang tanahnya luas dan lapang serta sistem interaksi antar warga yang begitu hangat dan komunal selayaknya gerak fisik menjadi budaya dalam aktivitas masyarakat. Anak-anak bermain berlarian di kampung-kampung, anak gembala di padang rumput, mobilitas warga menjalankan roda kehidupannya, dan para remaja yang mengolah fisiknya di lapangan kampung, dll mestinya menjadi pemandangan lumrah sehari-hari. Namun karena banjir bandang alat-alat komunikasi dan transportasi dalam kehidupan kita sekarang ini menjadikan sistem interaksi sosial masyarakat kian termediasi. Lihatlah bagaimana anak-anak itu asyik bermain game online seharian, kawula muda malas menggerakkan badannya dan lebih asyik beronline ria dengan HP yang melekat erat di genggaman tangan mereka, genk motor terbentuk di berbagai kota, dan lapangan di desa-desa itu kosong melompong sementara tempat nongkrong seperti kafe, karaoke, dan sejenisnya ramai dihadiri kawula muda yang membisu seribu bahasa. Dari ketiga fenomena naif dan ironis tersebut kehadiran virus Corona seakan menampar kita semua bahwa anugerah nikmat yang tak terhitung itu kita sia-siakan selama ini. Dan hari-hari ini kita diajari untuk belajar kembali tentang bagaimana mensyukuri matahari, menikmati hasil tani sendiri, dan merumput kembali di lapangan yang telah lama kita lupakan. Salam sehat. #bilikrenungeps59 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share: